Senin, 04 Mei 2015
Macam-macam Hati #8
السلام عليكم ورحمة اللّه ﺗﻌﺎﻟﯽٰ وبركاته
إِنَّ الْحَمْدَ الله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْه فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَمَّا بَعْدُ؛
Ayyuhal ikhwah wa akhawati fillah rohimani wa rohimakumullah jami’an. Kita lanjutkan halaqoh yang kedelapan belas. In syaa Allah pada halaqoh ini masih pada kaitannya dengan alamatul sihatil qolbi, masih pada ciri-ciri atau tanda sehatnya hati.
Berkata Syeikh :
"Diantara tanda sehatnya hati adalah apabila luput darinya wirid ataupun ketaatan dari ketaatan kepada Allah Subhanahu wata'ala, maka dia mendapati pada hal itu adalah rasa sakit atau kesedihan yang amat teramat sangat, seperti rasa sakitnya atau sedihnya seorang yang tamak terhadap dunia dengan kehilangan hartanya atau dunianya."
Subhanallah.
Disini Syaikh menggambarkan dengan perumpamaan gambaran yang sangat gamblang dan ma’qul (masuk akal) dimana orang yang memang tamak terhadap hartanya itu apabila hilang darinya harta atau luput darinya suatu rezeki yang harusnya dia dapat, tidak mendapatkannya. Pasti dia akan sangat sedih, sangat terasa sesak dadanya.
Demikianlah justru orang yang sehat hatinya yaitu tatkala dia tidak bisa melakukan suatu ketaatan luput darinya karena mungkin suatu sebab (karena udzur), entah karena waktu yang habis atau yang lainnya karena tidak mendapatkan waktunya atau luput darinya suatu ketaatan, ketaatan kepada Allah Subhanahu wata'ala, maka dia akan merasakan suatu kesedihan yang amat sangat sakit, penderitaan yang begitu luar biasa. Subhanallah. Artinya bahwa orang yang hatinya sehat itu betul-betul semangat untuk senantiasa menjaga ketaatan kepada Allah subhanahu wata’ala, berusaha hingga tidak ingin luput darinya suatu ketaatan sekalipun, suatu dzikir atau wirid sekalipun. Berusaha senantiasa untuk mengabdikan dirinya hanya kepada Allah Subhanahu wata'ala, mencari wajah Allah Subhanahu wata'ala. Tidak pernah ada waktu sedikitpun yang dia sia-siakan, semuanya hanya untuk Allah Subhanahu wata'ala, sekalipun di dalam dia mencari dunia, dia usahakan niatnya karena Allah Subhanahu wata'ala, untuk membantu sesama dan seterusnya.
Kemudian dikatakan oleh syeikh yang berikutnya, dan diantara tanda sehatnya hati adalah hati yang rindu terhadap khidmat/ untuk membantu dan menolong Allah Subhanahu wata'ala, seperti kerinduan seorang yang lapar terhadap makanan atau minuman. Subhanallah. Artinya dia senantiasa menolong agama Allah berkhidmat kepadaNya, menolong agamaNya. Apapun yang dimilikinya hanya untuk Allah Subhanahu wata'ala, hanya untuk agama Allah Subhanahu wata'ala. Kerinduannya kepada khidmat kepada Allah Subhanahu wata'ala, gambarannya seperti kerinduan seorang yang lapar kepada makanan. Padahal kita tahu orang yang lapar kepada makanan, baru mencium aroma ataupun melihat makanan hanya gambarannya saja dia langsung menginginkannya. Demikianlah orang yang hatinya sangat rindu untuk senantiasa berkhidmat kepada Allah ketika dia baru mendengar lantunan ayat-ayat al quran, peringatan yang disampaikan oleh orang yang memberi nasihat baik melalui mimbar atau majelis-majelis ilmu dia terbuka, semangat untuk menjadi ikut andil di dalam menolong agama Allah Subhanahu wata'ala, berkhidmat di dalam menolong agama Allah Subhanahu wata'ala.
Berkata Yahya bin Muadz, barang siapa yang merasa senang didalam berkhidmat kepada Allah Subhanahu wata'ala, mengabdi dan menolong agama Allah Subhanahu wata'ala, maka segala sesuatu akan merasa senang untuk berkhidmat kepadanya.
Hakikatnya adalah balasan sesuai dengan perbuatan. Tatkala seseorang itu merasa senang untuk menolong, berkhidmat, mengabdi kepada Allah Subhanahu wata'ala bukan karena keterpaksaan dalam melakukan suatu ibadah tapi karena panggilan jiwa bahkan kebahagian bagi dirinya, maka sebagai balasannya Allah akan jadikan segala suatu juga bangga dan senang untuk berkhidmat kepadanya.
Dan barang siapa yang merasa tenang dan sejuk pandangannya kepada Allah Subhanahu wata'ala, maka setiap orang akan dijadikan sejuk pandangan kepadanya
Ikhwani fiddiin azzanirohimani wa rahimakumullah.
Demikian “al-jaza’ min jinsil ‘amal” maka tiap kali seorang melakukan ibadah adalah karena kecintaannya dia kepada Allah Subhanahu wata'ala. Maka Allah balasi dengan balasan yang lebih baik, karena Allah Subhanahu wata'ala tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beramal shaleh, orang yang berbuat baik kepadaNya, orang-orang yang menolong agama Allah Subhanahu wata'ala. Tenang hatinya untuk menolong agama Allah, tenang hatinya, senang, berbahagia, senang batinnya, senang hatinya dalam menolong agama Allah Subhanahu wata'ala ikut andil di dalamnya. Subhanallah. Demikianlah ciri hati yang sehat semoga bermanfaat dan berfaedah.
والله تعلى و أعلم بالصواب، هذا ما أقول لكم
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين، و الحمد الله ربّ العالمين
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
✏ Disalin oleh Tim Transkrip
🔁 Dapat diunduh di: http://goo.gl/I4ocdW
✅ Dimuraja'ah oleh Ustadz Tauhiddin Ali Rusdi Sahal, Lc.
📚 Berdasarkan kitab Tazkiyatun Nufus (penulis Syaikh Dr. Ahmad Farid)
Macam-macam Hati #9
بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
السلام عليكم ورحمة اللّه ﺗﻌﺎﻟﯽٰ وبركاته
إِنَّ الْحَمْدَ الله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْه فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَمَّا بَعْدُ؛
Ikhwani fiddin wa akhawati fillah rohimani wa rahimahullāhu Ta'āla jami’an. Pada halaqoh yang kesembilan belas ini alhamdulillah kita masih dimudahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla untuk melanjutkan kembali kajian Tazkiyatun Nufus dari kitab Tazkiyatun Nufus karya Syaikh Dr. Ahmad Farid hafidzhohullāhu ta,āla.
Berkata Syaikh yaitu hati yang tekadnya hanya satu, yaitu hati yang tekadnya hanya untuk karena Allāh yakni karena ketaatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Itu ciri hati yang sehat senantiasa tujuannya hanya karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Kalaupun ingin beramal maka berhenti sejenak, melihat apakah niat dari suatu perbuatan tersebut karena Allāh atau tidak. Jikalau karena Allāh maka akan dilakukan jikalau karena selain-Nya maka akan ditinggalkan.
Hal ini juga sebagaimana yang diungkapkan oleh Hasan Al-Basri rahimahullahu ta’ala
رحم الله امرءا وقف عند همه، إن كان لله مضى، وإن كان لغيره تأخر
"Semoga Allāh merahmati seorang yang berhenti takkala punya niat (punya tekad untuk melakukan suatu amal atau mengucapkan suatu ucapan), kalau tekad dan niatnya karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla maka dia akan berlalu (artinya melakukan suatu amalan ataupun ucapan yang diucapkannya), kalau bukan karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla maka dia akan mengundurkan ucapan atau perbuatan tersebut.”
Karena seorang yang hatinya salim itu memang ingin berusaha semaksimal mungkin apapun yang dilakukannya hanya dalam rangka melaksanakan ketaatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Niatnya berupaya senantiasa hanya karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla bukan selainNya.
Juga diantara tanda sehatnya hati yaitu hati yang menjadi paling bakhil terhadap waktunya untuk hilang sia-sia begitu saja, sebagaimana bakhilnya seorang atau seperti bakhilnya manusia yang sangat bakhil terhadap hilangnya hartanya. Dia sangat tidak ingin waktunya terbuang sia-sia begitu saja meskipun dalam canda gurau, perkataan-perkataan yang biasa saja. Meskipun dalam kehidupan dia akan berusaha untuk mengoptimalkan waktunya dalam ketaatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla di dalam beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat, sebagai urusan tegaknya agama ataupun akhiratnya. Karena ini adalah ciri sebenarnya, ciri seorang yang mukmin, yang baik. Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ المْـَرْءِ تَرْكُهُ مَالَايَعْنِيهِ
“Diantara tanda kebaikan aIslam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya”.
Kalau sebuah ucapan memang tidak bermanfaat baginya apalagi lebih banyak mudharatnya maka dia meninggalkannya. Kalau sebuah ucapan saja antara mudharat dan mashlahatnya seimbang itu saja dia tinggalkan, apalagi kalau lebih tinggi mudharatnya maka dia akan lebih meninggalkannya. Kalau sebuah perbuatan yang akan dilakukan lebih banyak mendatangkan mudharat maka dia tinggalkan.
Demikian pula apabila suatu perbuatan itu seimbang antara mashlahat dan mudharatnya dia pun meninggalkan karena dia ingin mengoptimalkan waktunya hanya karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Tidak ingin terbuang sia-sia, tidak ingin menghambur-hamburkankan waktunya, masa mudanya sia-sia di jalan syaithon, di jalan syahwat, tapi senantiasa berusaha mengoptimalkan waktunya di jalan Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Seperti bakhilnya orang yang kehilangan hartanya, tidak menginginkan hartanya terbuang sia-sia.
Juga di antara sehatnya hati apabila masuk ke dalam ibadah shalat maka hilang sudah darinya kesedihan dan kegundah gulanaannya. Dunia segala kesedihan kegundah gulana urusan dunia dia tinggalkan, dia lupakan, dia merasa nikmat dengan shalat. Ini sebagaimana sabda Nabi kepada Bilal:
يا بلال أرحنا بالصلاة
"Wahai Bilal, Istirahatkan kami dengan sholat"
Jadikan kami rohah (dalam kondisi tenang, senang, gembira) dengan shalat,
وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ
Kata nabi shalallahu’alaihi wassalam “dan dijadikan penyejuk pandangan bagiku di dalam shalat”.
Sehingga orang yang hatinya baik, shahih, dan salim adalah orang yang takkala datang waktunya shalat betul-betul merasa sejuk, tenang karena ingin bertemu dengan kekasihnya yang paling dicintainya yaitu Rabbuna Allāhu azza wa jalla
Sehingga dia dapati di dalam shalatnya itu ketenangan, kenikmatan dan penyejuk pandangan. Terkadang orang mungkin menyangka bahwa kebahagian itu pada harta, kebahagian itu hanya pada kekayaan, banyaknya istri, tingginya kedudukan atau jabatan, tapi tidak pernah menyangka bahwa padahal kebahagian itu juga ada pada kekhusyu'an shalat, kenikmatan ketika bermunajat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Bahkan iman kepada Alah dan iman kepada Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam adalah inti dari sebuah kebahagiaan, karena orang yang bahagia adalah orang yang bahagia di dunia dan bahagia di akhirat. Apalah arti sebuah kebahagian takkala di dunia berfoya-foya tetapi di akhirat direbus di neraka. Maka orang yang berusaha betul-betul untuk menggapai akhiratnya dengan segala aktifitasnya karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla maka itulah orang yang bahagia di dunia dan akhirat
Oleh karenanya ketika kita meminta kebahagiaan tidak boleh hanya kebahagian dunia saja tapi di dunia kebaikan dan di akhirat juga kebaikan. Dan dia dapati dalam saat itu kebahagian hatinya. Tidak ada kebahagian yang lebih bahagia bagi seorang mukmin kecuali ketika keadaan dia bertemu dengan kekasihnya., Dan kekasih yang paling dicintainya bagi seorang mukmin yang hatinya salim dan shahih adalah takkala bermunajat kepada rabbnya yaitu Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Hadza ma aqulu lakum. Semoga berfaedah dan bermanfaat.
Wassalāmu'alaikum warahmatullāhi wabarakātuh
✏ Disalin oleh Tim Transkrip
🔁 Dapat diunduh di: http://goo.gl/I4ocdW
✅ Dimuraja'ah oleh Ustadz Tauhiddin Ali Rusdi Sahal, Lc.
📚 Berdasarkan kitab Tazkiyatun Nufus (penulis Syaikh Dr. Ahmad Farid)
Macam-macam Hati #10
بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
السلام عليكم ورحمة اللّه ﺗﻌﺎﻟﯽٰ وبركاته
إِنَّ الْحَمْدَ الله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْه فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَمَّا بَعْدُ؛
Pada halaqoh yang keduapuluh ini insyaAllāh kita juga masih membahas tentang tanda sehatnya hati bagian yang terakhir.
Berkata Syaikh Dr. Ahmad Farid hafidzohullahu ta’ala: “Diantara tanda sehatnya hati: tidak pernah merasa letih, tidak pernah merasa futur untuk mengingat Allāh Subhānahu wa Ta'āla sebagai rabbnya.
Berdzikirnya mengingat Allāh Subhānahu wa Ta'āla tidak pernah penat, tidak pernah letih siang malam untuk mengingat Allāh Subhānahu wa Ta'āla, mengingat keagunganNya, kekuasaanNya, keMaha dahsyatanNya dalam menciptakan seluruh alam semesta, mengingat akan kasih sayangNya yang begitu mulia, yang begitu besar kepada orang-orang yang beriman, mengingat akan kebesaran Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Dan tidak merasa bosan di dalam berkhidmat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, menolong dan membela agama Allāh, baik dengan hartanya atau bahkan dengan jiwanya.
Dan tidak bersikap ramah, sopan kepada orang-orang yang memaksudkan amalan selain Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Terkadang kita dapati ada orang-orang yang sopan, tawadhu, berbahasa yang ramah kepada orang-orang tertentu seperti orang kaya saja. Kadang tatkala seorang tawadhu, sopan, berbahasa ramah kepada orang yang kaya sedang kepada yang miskin dia tidak melakukan demikian, itu menunjukan bahwa ini adalah sikap penjilatan, hanya agar mendapat kebaikan dari si kaya. Ada maksud-maksud tertentu, tujuan-tujuan tertentu yang nista.
Berbeda dengan orang yang selalu bersikap ramah terhadap siapapun yang dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Apalagi terlebih kepada orang-orang yang menunjukkan dirinya kepada jalan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla atau kepada orang yang mengingatkannya tentang Allāh Subhānahu wa Ta'āla, maka dia harus selalu bersikap tawadhu, ramah, sopan kepada gurunya, kepada orang yang menasehatinya karena dia butuh dengan nasehat.
Hati itu laksana bulu yang sangat tipis dan ditiupkan angin diterbangkan kemana saja sehingga kalau tidak ditunjuki dengan tausiyah, nasihat, wejangan yang manfaat dia akan mengikuti arah angin yang bisa jadi adalah kesesatan, penyimpangan dan kerugian dunia dan akhirat tentunya.
Orang yang hatinya salim dan shahih adalah orang yang justru bersikap ramah kepada orang-orang yang memberikan kebaikan akan akhiratnya, mengingatkan akan akhiratnya. Karena yang namanya teman bukanlah orang yang selalu menunjukinya tentang akan kebaikan dirinya tapi justru orang yang menjadi teman bagi kita, yang baik adalah selalu menunjukkan keburukan kita, mengingatkan akan cacat dan cela diri kita sehingga menuju kearah kebaikan. Dia mengoreksi kemudian juga dia memberikan solusi. Subhanallah. Ini adalah suatu keutamaan yang begitu besar.
Dan diantara tanda sehatnya hati yang lainnya perhatiannya untuk meluruskan niat membenarkan niat di dalam beramal itu besar dari amal itu sendiri karena yang terberat bagi seorang itu bukan untuk beramal, yang terberat adalah meluruskan niat di dalam beramal.
Banyak sekali orang yang bersimbah darah, berpeluh keringat di dalam mendekatkan amal, berusaha untuk beramal, berusaha untuk melaksanakan ketaatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla tetapi hampa dari niat yang ikhlas, hampa dari niat yang benar karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla sehingga dia tidak menuai kebaikan sama sekali dari amal shalehnya bahkan menjadi bagaikan debu yang berterbangan, tidak menjadi amal shaleh tapi akhirnya menjadi amal yang thaleh, yang tidak diterima di sisi Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Maka orang yang hatinya salim senantiasa berusaha untuk ikhlas di dalam amalnya dan murni menjernihkan amal karena Allāh dan mengikuti Nabi Shallahu’alaihi wassalam, dan selalu ihsan, teliti, sempurna di dalam menjalankan amal shaleh, ketepatan waktunya, kebenaran caranya dan juga kesesuaian kadarnya yang dia tentukan dalam syariat ini.
Demikian juga dia tetap bersama dengan itu berusaha meluruskan niat, bersama itu teliti dalam beramal shaleh benar sesuai dengan mengikuti Nabi Shallahu’alaihi wassalam juga dia menyaksikan akan tanda keagungan karunia Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang begitu besar pada dirinya sehingga dia justru senantiasa bersyukur atas nikmat Allāh dan dia melihat pada dirinya pada kekurangan dalam melakukan hak Allāh Subhānahu wa Ta'āla menunaikan hak-hal Allāh maka diapun beristighfar, memohon ampun kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla senantiasa agar Allāh meluruskan, dan menerima amal shalehnya. Senantiasa agar Allāh Subhānahu wa Ta'āla menjadikan amalnya adalah amal yang shaleh yang diterima di sisiNya.
Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla menjadi kita orang-orang yang diterima amalnya, ucapannya dan semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla menjadikan ucapan dan perbuatan kita adalah ucapan yang ikhlas dan perbuatan ikhlas hanya karena mengharap wajah Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
هذا ما أقول لكم، و الحمد الله ربّ العالمين.
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
✏ Disalin oleh Tim Transkrip
🔁 Dapat diunduh di: http://goo.gl/I4ocdW
✅ Dimuraja'ah oleh Ustadz Tauhiddin Ali Rusdi Sahal, Lc.
📚 Berdasarkan kitab Tazkiyatun Nufus (penulis Syaikh Dr. Ahmad Farid)
Minggu, 03 Mei 2015
Racun Hati #Mukaddimah
بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيدا ، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله . لا نبيّ ولا رسول بعده. أَمَّا بَعْدُ؛
Ikhwah fiddin wa akhwat fillah rohimani wa rohimakumullah jami’an. Pada halaqoh yang keduapuluh dua ini, masuk pada bab yang keempat summul qolbi alarba’ (empat racun hati). Pada kesempatan ini insyaa Allāh sebagai muqaddimah akan membahas satu persatu tentang masuk ke empat racun hati tadi.
Kata beliau hafidzohullahu ta’ala :
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya maksiat seluruhnya adalah racun bagi hati. Dan maksiat adalah sebab yang menyebabkan sakitnya hati dan kebinasaannya hati. Dan ini akan melahirkan sakitnya hati, sehingga niatnya akan karena selain Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Bahkan maksiat selain sebagai sebab yang menyebabkan sakitnya hati juga sebab yang menyebabkan bertambahnya sakitnya hati, jadi semakin bertambah parah sakitnya hati.”
Berkata Ibnu Mubarak, (Abdullah ibnu Mubarak rahimahullah mengatakan):
"Aku melihat dosa-dosa itu mematikan hati dan membiasakannya akan mewariskan kehinaan, meninggalkan perbuatan-perbuatan dosa itu adalah kehidupan bagi hati. Dan itu lebih baik bagimu untuk menyelisihi dosa artinya tidak melakukan perbuatan dosa.”
Demikian dosa-dosa itu bisa menyebabkan penyakit yang bertambah dan terus sampai akhirnya hati itu mati, menyebabkan kematian bagi hati karena kemaksiatan itu melahirkan kemaksiatan yang lain.
Hal ini juga sebagaimana ditunjukkan dalam firman Allāh :
كلا ۖ بل ران على قلو بهم ما كانوا يكسبون
"Sekali kali tidak, bahkan hati mereka telah tertutup disebabkan apa yang telah mereka lakukan."
Disebabkan usaha yang mereka kerjakan dari maksiat, dosa kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Perbuatan-perbuatan dosa itulah yang ahirnya membuat menutupi hati mereka, membuat hati mereka terkunci, tertutup dari hidayah, tertutup dari kebaikan sehingga akhirnya mati dan jauh dari rahmat Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Karena maksiat bukan masalah besar /kecilnya sebuah maksiat, akan tetapi kepada siapa anda bermaksiat. Bermaksiat hakikatnya kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla maka sekecil apapun maksiat yang dilakukan merupakan bentuk lancang kepada Allāh yang Maha menciptakan, Yang Maha memberi rezeki, Yang Maha memberikan rahmat, kasih sayangnya kepada seluruh hamba-hambaNya, sehingga seolah-olah seorang yang bermaksiat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, suatu kebaikan yang dia balas dengan keburukan. Rabb nya atau Tuhannya memberikan kepadaNya kebaikan, tapi dia justru membalasnya dengan kedurhakaan, kedurjanaan dan pengkhianatan.
Kemudian Syaikh melanjutkan :
"Maka barang siapa yang menginginkan selamat hatinya, dan kehidupan bagi hatinya, maka dia harus membersihkan, memurnikan hati dari pengaruh racun-racun hati tadi, kemudian terus menjaga hatinya, menjaga, tidak berbuat, tidak terjatuh pada perbuatan maksiat, dengan tidak mengkonsumsi racun-racun yang baru. Apabila dia mengkonsumsi atau menelan meskipun sedikit dari racun tadi karena kekeliruan, segera untuk menghapus pengaruhnya, menghilangkan pengaruhnya dengan taubat dan istighfar kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, dan dengan mengamalkan amal-amal kebaikan yang bisa menghapuskan dosa-dosa tadi.”
Hal ini hakikatnya adalah sebagai pengobatan, tatkala seorang sudah terlanjur telah menelan pil pahit atau racun dari kemaksiatan, dari perbuatan dosa, maka solusinya adalah dia banyak menghapus dosa tadi dengan cara menghilangkan pengaruhnya itu dengan bertaubat dan istighfar dan juga mengamalkan amal-amal kebaikan. Ini adalah pengobatan.
Adapun sebagaimana kata pepatah, “pencegahan lebih baik dari pada pengobatan”. Artinya mencegah dari mengkonsumsi racun-racun hati lebih baik daripada kita harus berobat. Dan bagi siapa yang sudah terlanjur jatuh untuk menelan, mengkonsumsi racun tadi, maka dia harus segera mengobatinya tidak membiarkan, membuat hatinya liar begitu saja, liar untuk bermaksiat, membiarkan hatinya ternodai dengan maksiat-maksiat tadi atau empat racun hati. Dia segera banyak bertaubat pada Allāh, istigfar. Istighfar dijalan-jalan, banyak istighfar tatkala kita sedang duduk-duduk, banyak istighfar tatkala kita sedang bermajelis bahkan ketika sedang menikmati hidangan kita harus banyak beristighfar, banyak-banyak beramal shaleh, berbuat kebaikan yang bisa menghapus dosa-dosa tadi.
Apa yang dimaksud dengan empat racun hati tadi adalah
1. BANYAK BICARA yang tidak perlu, banyak bicara kepada yang haram, (nanti akan dijelaskan secara detil satu persatu)
2. BANYAK MEMANDANG yang tidak halal
3. BANYAK MAKAN
4. BANYAK BERGAUL
Dan inilah racun yang banyak tersebar, dan yang paling punya pengaruh besar pada kehidupan hati, paling kuat pengaruhnya bagi kehidupan hati atau matinya.
والله تعالى أعلى وأعلم بالصواب
هذا ما أقول لكم
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين، و الحمد الله ربّ العالمين
ثم السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
✏ Disalin oleh Tim Transkrip
✅ Dimuraja'ah oleh Ustadz Tauhiddin Ali Rusdi Sahal, Lc.
📚 Berdasarkan kitab Tazkiyatun Nufus (penulis Syaikh Dr. Ahmad Farid)
Racun Hati #1
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِهدا إِلَى يَوْمِ القيامةِ؛ أَمَّا بَعْدُ
Ayyuhal ikhwah rohimani wa rohimakumullah jami’an. Pada halaqoh yang keduapuluh tiga ini insyaaAllāh kita akan membahas tentang Fudhulul Kalam (banyak bicara), racun hati bagian yang pertama. Dan pada pertemuan ini penulis kitab ini, Syeikh Dr. Ahmad Farid hafidzohullahu ta’ala mengawali pembahasan tentang banyak bicara ini dengan muqaddimah yang kemudian langsung disambung dengan pembahasan intinya, dan perlu diketahui bahwa pembahasan ini tidak terdapat pada kitab cetakan lama, hanya terdapat pada kitab cetakan terbaru.
Berkata beliau hafidzohullahu ta’ala :
"Segala puji bagi Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang telah berbuat ihsan dengan penciptaan manusia dan menyempurnakannya, lalu kemudian Allāh mengilhamkan cahaya iman, sehingga dengan cahaya iman itu menghiasi dan memperindahnya. Lalu Allāh juga mengajarkan penjelasan kepada manusia dan mengutamakannya dengan penjelasan tersebut dan melebihkannya. Dan memberikan pertolongan dengan diberikannya lisan ini, untuk seseorang bisa menerjemahkan apa yang dikandung dalam hatinya dan dipikir oleh hatinya. Lisan itu termasuk di antara nikmat-nikmat Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang sangat agung. Dan rahasia ciptaan Allāh yang sangat menakjubkan. Lisan itu meski kecil ukurannya, gramnya, timbangannya namun dia sangat besar ketaatannya dan kejahatannya.”
Artinya disini lisan itu bisa mengucapkan suatu ucapan yang mulia dan berpahala besar. Dan juga bisa mengucapkan suatu ucapan yang sangat jahat. Karena dimana tidak, menjadi jelas kekufuran dan iman kecuali dengan persaksian iman. Seorang menjadi jelas bahwa dia masuk islam dengan syahadat (laa ilaha ilallah) dengan dia ucapan lisannya mengucapkan laa ilaha ilallah, dan seorang dinyatakan kufur juga dengan ucapan dia kemurtadan melalui lisannya.
Iman adalah puncak ketaatan, sedangkan kekufuran adalah puncak kemaksiatan. Dan barangsiapa yang melepaskan kelincahan lisan dan membiarkannya terlepas tanpa tali kekang, membiarkannya tanpa kendali, syaitan akan menapaki lisan tersebut pada setiap medan, pada setiap tempat. Syaitan akan menyeretnya/menggiringnya ke tepi jurang kehancuran. Hingga bahkan syaitan akan memaksa untuk masuk ke dalam neraka al bawwar. Dan tidaklah yang menyeret manusia ke dalam neraka jahanam atas hidung-hidung mereka, atas wajah-wajah mereka, kecuali sebab lisan-lisan mereka.
Sebagaimana riwayat dari sahabat mulia Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam beliau bersabda "Dan bukankah yg menyeret manusia atas wajah-wajah mereka atau mengatakan atas hidung-hidung mereka kecuali sebabnya adalah hasil dari lisan mereka.”
Ikhwani fiddiin 'azzani warohimani wa rohimakumullah, apa yang dimaksud dengan “hashoidul alsinah” atau hasil/buah dari lisan-lisan itu, yang dimaksud dengan buah lisan, panennya lisan adalah balasan ucapan yang haram dan hukuman-hukuman ucapan yang haram. Karena sesungguhnya seorang itu telah bercocok tanam dengan ucapannya atau perbuatannya.
Baik hasanat ataupun sayyiat bila bercocok tanam kebaikan atau keburukan. Maka kemudian nanti dia akan memanen pada hari kiamat apa yang dia tanam. Maka barang siapa yang menanam kebaikan melalui ucapan dan perbuatan, maka dia akan memanen kemuliaan. Dan barang siapa sebaliknya yang menanam keburukan melalui ucapan dan perbuatannya, maka dia akan memanen penyesalan.
Ikhwani fiddiin 'azzani warohimani wa rohimakumullah, jadi tidaklah seorang nanti di akhirat kecuali akan memanen buah yang dihasilkan dari ucapannya atau dari perbuatannya dan berapa banyak orang yang masuk ke dalam neraka disebabkan dengan dosa lisannya, maka disini adalah peringatan bagi siapa saja untuk menjaga, memperhatikan, dan memelihara lisannya agar tidak berucap baik dari segi kekhufuran ataupun kesyirikan ataupun dosa-dosa besar yang lainnya, sehingga menyeretnya kepada neraka Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
هذا ما أقول لكم
والله تعالى أعلى وأعلم بالصواب
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين، و الحمد الله ربّ العالمين
ثم السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
✏ Disalin oleh Tim Transkrip
✅ Dimuraja'ah oleh Ustadz Tauhiddin Ali Rusdi Sahal, Lc.
📚 Berdasarkan kitab Tazkiyatun Nufus (penulis Syaikh Dr. Ahmad Farid)
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Racun Hati #2
بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
السلام عليكم ورحمة اللّه ﺗﻌﺎﻟﯽٰ وبركاته
إِنَّ الْحَمْدَ الله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْه فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَمَّا بَعْدُ؛
Ikhwah fiddin wa akhawat fillah rohimani wa rohimakumullah jami’an. Pada halaqoh yang keduapuluh empat ini akan kita sebutkan beberapa akhbar baik dari nash ataupun dari hadits-hadits Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tentang petaka dan bahaya lisan.
Mu’allif hafidzohullahu ta’ala Syeikh DR. Ahmad Farid hafidzohullahu ta’ala berkata :
"Telah terdapat banyak berita baik dari kitab dan sunnah, berkaitan dengan tahdziir (peringatan) dari petaka lisan dan bahayanya".
Dan diataranya adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla,
Allāh berfirman :
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir, Raqib dan Atid."
(QS. Qaaf: 18)
Dan juga sebagaimana hadits-hadits yang shahih yang banyak mengingatkan tentang petaka dan bahaya lisan ini, dan akan bahayanya fudhulul kalam, diantaranya:
Dari Sufyan bin Abdillah Ashsaqofi semoga Allāh meridhoinya:
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَخْوَفُ مَا تَخَافُ عَلَيَّ فَأَخَذَ بِلِسَانِ نَفْسِهِ ثُمَّ قَالَ هَذَا
Aku katakan kepada Rasulullah:
''Ya Rasulullah (wahai Rasulullah), apa yang paling engkau takuti atas diriku?'' Beliau berkata: ''Ini.”
Sembari Nabi Shalallahu’alaihi wassalam mengambil lisannya.
Tatkala mengatakan ini, yang dimaksud adalah lisan. Tatkala lisan itu tidak terjaga itu lebih besar bahayanya dari pada manfaatnya. Hadits tadi diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi. Dan beliau berkata hadits hasan shahih, juga diriwayatkan oleh Imam Daarimi dan Hakim, yang hadits ini juga disepakati keshohihannya oleh Imam Dzahabi dan Imam Albani rahimahumullahu jami’an.
Dalam riwayat yang lain:
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا النَّجَاةُ قَالَ أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ
Dari Uqbah bin Amir, dia berkata “Aku bertanya kepada Rasulullah”, “Ya Rasulullah (wahai Rasulullah) apa itu keselamatan?" Beliau bersabda "Peliharalah lisanmu".
Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi, Imam Ahmad, Ibnu Mubarak dan disahihkan oleh Imam Albani rahimahullahu jami’an dalam ashshohihah.
Juga terdapat riwayat:
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
"Barangsiapa beriman kepada Allāh dan hari akhir, maka berkatalah yang baik ataulah diam. "
(HR. Bukhari dan Muslim).
Itu termasuk perkataan yang singkat tapi maknanya padat. Dan maksudnya adalah perkataan itu entah dia adalah kebaikan, maka hamba diperintahkan untuk mengucapkan atau selain itu maka dia pun diperintahkan untuk diam. Jadi pertanda keimanan seseorang kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan hari akhir dibuktikan dengan dia berkata baik atau diam.
Kenapa berkata baik atau diam itu dikaitkan dengan iman kepada Allāh dan hari Akhir karena rasa takut dan rasa iman seseorang kepada Allāh dan hari akhir inilah yang mendorong seseorang itu akan berkata baik atau diam. Dan bukti keimanan seseorang pada Allāh dan hari akhir dibuktikan dengan bahwa dia itu akan berkata yang baik atau diam apabila mudharatnya lebih besar, apabila petaka yang ditimbulkan lebih besar.
Hadits yang lainnya:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ.
Dari sahabat yang mulia Abu hurairah Rodhiallahuta’ala anhu (semoga Allāh meridhoinya) bahwasanya beliau mendengar Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda bahwa "sesungguhnya seorang hamba tidaklah mengucapkan satu kalimat yang tidak jelas, dengan sebab ucapan itu dia terjerembab di neraka lebih jauh daripada antara jarak timur dan barat.
Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, demikian pula diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi.
Dalam riwayat Tirmidzi dengan lafazh : "Sesungguhnya seseorang benar-benar akan mengucapkan satu kalimat yang dianggap biasa, tapi dengan sebab ucapannya itu, dia akan terjatuh 70 tahun di dalam neraka atau ada yang mengatakan 70 kedalaman dalam neraka".
Demikian pula dari Abdullah bin Mas'ud Rodhiyallahuta’ala anhu, kata beliau (Abdullah bin Mas'ud Rodhiallahuta’ala anhu), "Demi Allāh yang tidak ada illah yg berhak diibadahi kecuali Dia, tidak ada sesuatu apapun yang sangat butuh untuk dipenjara paling lama daripada lisanku.” Dan beliau adalah pernah mengucapkan "Wahai lisan berkatalah yang baik, maka engkau beruntung dan diamlah dari keburukan maka engkau akan selamat sebelum engkau menyesal.” Ini ucapan sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud Rodhiallahuta’ala anhu tentang petaka lisan.
Kemudian juga ucapan yang lainnya dari sahabat yang mulia Abu Darda, "Bersikap adillah terhadap kedua telingamu daripada mulutmu, karena sesungguhnya telah dijadikan bagimu dua telinga dan satu mulut, hal itu hendaklah menjadikanmu banyak mendengar dari pada banyak bicara.”
Betapa Fudhulul Kalam itu betul-betul memberikan bahaya yang sangat besar sampai-sampai Al-Qur'an, hadits-hadits Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dan aqwal (ucapan) para salaf sangat perhatian, dalam hal ini menujukkan betapa besarnya petaka lisan.
Demikian semoga ini berfaedah dan bermanfaat dan menjadi teguran bagi kita untuk selalu mawas diri menjaga lisan ini dari melepas satu ucapan yang justru akan mendatangkan petaka bahaya dan mendatangkan musibah ataupun azab pada hari kiamat. Naudzubilah tsumma naudzubillah.
هذا ما أقول لكم
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين، و الحمد الله ربّ العالمين
ثم السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
✏ Disalin oleh Tim Transkrip
✅ Dimuraja'ah oleh Ustadz Tauhiddin Ali Rusdi Sahal, Lc.
📚 Berdasarkan kitab Tazkiyatun Nufus (penulis Syaikh Dr. Ahmad Farid)
Langganan:
Postingan (Atom)