Jumat, 24 April 2015

Mengapa Setiap Muslim Harus Belajar Bahasa Arab (4)

Hilangnya Keindahan Mukjizat dari Al Qur’an

Saya ingin beri 1 contoh sederhananya saja, sebagian dari anda mungkin pernah menulis puisi karena itu bagian dari tugas sekolah yang kemudian kamu bacakan puisi tersebut. Kita juga mungkin pernah membaca literatur seperti shakespeare atau diantara anda ada yang mungkin menyukai literatur berbahasa Urdu. Kamu membaca puisi, menilai suatu lagu atau literatur artistik lainnya dalam berbagai bahasa. Ketika anda menterjemahkan suatu puisi dari suatu bahasa ke bahasa lainnya, ketika anda menterjemahkan karya shakespeare dari bahasa Inggris ke bahasa Urdu atau kamu menterjemahkan karya Iqba ke dalam bahasa Inggris, apakah keindahan bahasanya akan tetap sama? Kata-kata antar bahasa manusia saja kehilangan keindahannya bila diterjemahkan dari bahasa yang satu ke bahasa yang lain. Saya tak membicarakan maksud katanya, tapi keindahannya. Puisi itu kan tentang keindahan kan? Yang hilang itu sisi keindahannya. Kita sedang membicarakan kata-kata Allah.  Apakah ada yang meragukan keindahan bahasaNya? Dan jika kita terjemahkan perkataan Allah tersebut, apakah akan ada keindahan yang hilang?

Untuk menjabarkan hilangnya sisi keindahan ini saya akan beri contoh perumpamaan dari As-Suyuthi r.a. As Sayuti r.a. adalah salah satu dari ulama pertama yang menuliskan ilmu pengetahuan yang ada dalam Al-Qur’an. Beliau berkata, jika seseorang dapat membayangkan jarak antara sang Pencipta dengan ciptaan-Nya. Bayangkan betapa tingginya Allah di atas makhluk ciptaan-Nya, maka kamu sudah bisa membayangkan jarak antara kata-kata sang Pencipta dengan kata-kata ciptaan makhluknya-Nya. Al-Qur’an adalah perkataan sang pencipta, sementara, terjemahan adalah kata-kata makhluk ciptaan-Nya, sudah terbayang beda jaraknya? Subhanallah. Bagaimana mungkin kamu bisa bilang yang satu bisa menggantikan yang lain, tidak mungkin bisa berpendapat seperti itu. Ini baru poin yang ke satu, hilangnya mukjizat dari al-Qur’an.

[syahida.com/islamedia]

Mengapa Setiap Muslim Harus Belajar Bahasa Arab (3)

Satu Contoh Kecil Mukjizat Al Qur’an


Allah Azza wa Jalla memberikan 2 hal di Al-Qur’an, ketika seseorang menterjemahkan Al-Qur’an, bahkan untuk terjemahan terbaik sekalipun. Si penterjemah berusaha untuk menterjemahkan pesan di dalam al-Qur’an. Tapi mustahil bagi si penterjemah untuk ‘menterjemahkan’ mukjizat di dalam Al-Qur’an. Mukjizat di dalam Al-Qur’an hanya bisa dirasakan dalam kata-kata pilihan Allah, itulah yang membuatnya menjadi mukjizat. Maka jika saya coba sampaikan pesan dalam pesan Bahasa Urdu, Bahasa Inggris atau bahasa lainnya, saya mungkin dapat jelaskan maksud pesan dari ayatnya tesebut. Tapi saya tidak akan bisa mempelihatkan sisi mukjizat atau keindahan dari ayat tersebut, ini mustahil.

Saya akan coba tunjukkan, tapi tidak ada papan tulis di sini. Kita coba secara lisan saja, Allah Azza wa Jalla mengatakan di surat al-Muddatsir: “Wa Robbaka Fakabbir” (QS: 74: 3). Huruf ‘wa’ di awal itu seperti huruf besar jika kamu menulis awal sebuah kalimat dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa Arab, huruf ‘wa’ ini bisa digunakan untuk banyak hal, lebih dari 20 fungsinya. Salah satunya adalah untuk memulai suatu kalimat baru. Jika kamu lihat huruf ‘wa’ diawal maka itu adalah kalimat yang baru. Kata-kata selanjutnya Robbaka Fakabbir. Sekarang dengarkan baik-baik. Apa huruf pertama yang kamu dengar ketika saya baca kata, ‘Robbaka’? Apa huruf Arab yang paling pertama kamu dengar? Apa semuanya mendengar huruf ‘Ro’? Pada Robbaka? Sekarang dengarkan huruf paling akhirnya, ‘robbaka fakabbiR’. Apa huruf terakhir yang kamu dengar? Huruf ‘ro’ juga.

Ok. Sekarang perhatikan huruf yang kedua, roBBaka, apa huruf yang kedua? Huruf ‘ba’. Sekarang dengarkan huruf yang kedua dari akhir, ‘robbaka fakaBBir’ apa huruf kedua dari yang paling akhir? Huruf ‘Ba’ juga.

‘robbaKa’, apa huruf yang ketiga? Huruf ‘Ka’. ‘faKAbbir, huruf apa yang ketiga dari akhir? Huruf ‘Ka’ juga. Kamu memperhatikan sesuatu nggak? Kalau di bolak-balik, hurufnya akan sama. Dalam bahasa Inggris, yang semacam ini disebut Palindrome, kata yang sama saja kalau dibaca bolak-balik. Seperti kata ‘Bob’ atau kata ‘race car’. Kata ‘race car’ ini Palindrome yang bagus dalam bahasa Inggris.

Allah Azza wa Jalla memberikan kata-kata kepada Nabi, yang tidak nabi tulis. “Kamu tidak pernah menulis sesuatu apapun dengan tanganmu.” (QS:29: 48), kamu tidak paham caranya menulis. Ini hanya mengandalkan lisan bagi Rasulullah ketika Allah sampaikan perkataan-Nya. Ketika Nabi mengajarkan sesuatu, dia tidak menambahkan kata-kata atau mengkoreksi kalimat wahyu yang telah ia bacakan, “Bukan itu yang saya maksud, coba ganti cara saya menyampaikannya”, tidak seperti itu. Tapi kalimat yang Nabi Muhammad katakan itu sama persis dengan apa yang diinstruksikan oleh Allah.

Yang menjadi tantangan bagi manusia adalah terjemahan sederhana dari ayat ini adalah: “Nyatakanlah bahwa keagungan hanya milik Allah.” Itu terjemahan sederhana dari ‘wa robbaka fakabbir’. Sekarang coba katakan kalimat “nyatakanlah bahwa keagungan hanya milik Allah”, dalam bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Jepang, Tiongkok, Itali, Rusia, Urdu, Persia atau dalam bahasa apapun juga. Katakan dalam bahasa apapun, supaya kalimat itu bisa dibaca bolak-balik (Palindrome). Dan kamu hanya boleh coba mengatakannya 1 kali saja, gak boleh kamu tulis ataupun melihat kamus terlebih dahulu. Seberapa mungkin kamu bisa lakukan itu? Subhanallah. Saya bisa terjemahkan maksud ayatnya, tapi bisakah saya terjemahkan mukjizatnya kedalam Bahasa Inggris? Kalau saya katakan: “nyatakanlah bahwa keagungan hanya milik Allah”. Kamu akan paham maksud pesannya. Tapi apakah kamu juga dapat mukjizatnya? Tidak. Mukjizat dari Allah hanya ada dalam bahasa Arab, ini hanya 1 contoh kecilnya saja.

Setiap ayat di Al-Qur’an memiliki mukjizatnya masing-masing. Yang paling tragis saat ini adalah, kebanyakan orang saat ini tidak mengetahui pesan dari Al-Qur’an. Dan bagi mereka yang paham maksud Al-Qur’an, kebanyakan dari mereka tidak dapat merasakan mukjizat dari Al-Qur’an. Saya ingatkan lagi, Al-Qur’an punya 2 hal sekaligus: Pesan dan Mukjizat. Ini bagaikan suatu harta karun yang hampir hilang untuk sebagian besar kaum muslimin. Bayangkan, bila anak kita paham 5 ayat saja, misalkan dia menghafal surat al-Ikhlas atau surat al-Kautsar. Jika mereka paham 5 ayat ini, mereka tahu apa yang dimaksudkan ayat ini dan ia dapat mengerti mukjizat dari ayat ini. Apakah mereka akan merasakan keimanan yang berbeda terhadap ayat itu? Ini akan lebih berarti bagi mereka. Inilah yang menjadi perbedaan antara keimanan kita dan keimanan para sahabat nabi. Salah satu dari banyak sebabnya adalah, ketika mereka mendengar Al-Qur’an mereka mendengar maksud/pesan dan mukjizat-Nya sekaligus. Kebanyak dari kita paling hanya mendapat 1 halnya saja. Ini salah satu alasan mengapa kita harus belajar bahasa Arab, karena kita ingin menghargai pesan dari Al-Qur’an, serta kita ingin merasakan keindahan dari mukjizatnya.

[syahida.com/islamedia]

Mengapa Setiap Muslim Harus Belajar Bahasa Arab (2)

Al-Qur’an Sebagai Pesan, Sekaligus Sebagai Mukjizat

Di setiap negeri muslim dimanapun mereka berada, jika mereka baca sesuatu yang bukan bahasa Arab, meskipun dari al-Qur’an, maka mereka tak akan anggap itu adalah al-Qur’an. Al-Qur’an menyebut: Alhamdulillahi rabbil alamin. Al-Qur’an tidak menyebut: segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam. Itu bukan Al-Qur’an. Jika kamu tanya, yang mana Al-Qur’an? Mereka menjawab, yang Alhamdulillahi rabbil alamin, bukan yang terjemahan. Hal ini sudah dipahami oleh setiap muslim. Tapi saya mau beri argumen yang lebih mendalam.

Ketika Allah Azza wa Jalla mengutus seorang rasul, ia akan berikan Mukjizat kepada sang Nabi untuk membantu tugasnya. Ini adalah aqidah dari setiap muslim, hal yang harus mereka yakini. Seorang nabi datang, dan akan memberitahukan hal yang sulit untuk diterima. Pagi ini saya ceritakan hal yang sama tentang ini pada seseorang. Coba kamu bayangkan kamu hidup 1000 tahun yang lalu, kemudian seorang tetanggamu datang kepadamu, lalu ia bilang: “Semalam seorang malaikat datang kepadaku memberikan wahyu dan malaikat itu memberitahu bahwa aku adalah Rasul Allah. Mulai sekarang apa yang saya katakan itu datangnya dari Allah yang dikirim melalui malaikat ini, bukan dari saya. Kamu selama ini mengenal saya sebagai tetangga, tapi mulai sekarang saya adalah Rasul Allah. Selain kamu harus yakin bahwa saya adalah utusan Allah, kamu pun harus melakukan segala yang saya perintahkan. Karena sebenarnya bukan saya yang memberi perintah kepadamu, saya memberimu perintah atas nama Allah.” Bayangkan bila tetanggamu memberitahu hal semacam ini. Sekarang bila ada yang memberitahukan hal semacam ini padamu, kita sebut ia adalah orang gila. Karena kita tahu, tidak ada lagi Rasul yang akan datang. Bayangkan situasi semacam ini beberapa ratus tahun yang lalu, tentu tidak mudah untuk meyakininya. Terlebih bila yang menyampaikan adalah pamanmu atau sepupumu sendiri. Apakah mudah meyakininya? Tentu tidak. Kebanyakan orang melihatnya sebagai hal yang lucu. “Bisa saya lihat gak malaikatnya?”, “Apa kamu yakin ada malaikat yang datang padamu?”, “Makan apa kamu tadi malam?”, “Apa kamu baik-baik saja?” Mereka pikir orang semacam ini sedang bercanda, pasti sedang tidak serius, atau dianggap memiliki kelainan psikologis. “Mungkin terjadi sesuatu padanya, karena biasanya ia normal tapi kenapa sekarang bicara seperti orang gila?”

Jika kita lihat Al-Qur’an, apa yang kaumnya katakan tentang Nabi Muhammad? Majnun (gila), sahir (tukang sihir), mashur. Ia tukang sihir. Ia kerasukan jin, ia gila, maka jangan dengarkan dia. Mungkin kita berfikir, “Kok bisa ya mereka menghina Rasulullah? Pasti mereka itu orang-orang yang kejam.” Tapi jika kamu letakkan dirimu di kondisi mereka saat itu, maka kamu akan paham, bahwa jika Rasulullah memintamu untuk percaya, itu bukanlah hal yang mudah. Pertama, ia memintamu untuk percaya atas sesuatu yang tidak dapat kamu lihat. Percaya akan adanya Tuhan itu mudah. Kalau saya bertemu orang lalu saya katakan: “Ada sesuatu yang menciptakan segalanya dan Ia maha Kuasa, apa kamu tahu itu?” Sebagian besar dari mereka akan katakan: “Saya sudah percaya akan adanya Tuhan. Itu tidak sulit untuk dipercaya.” Tapi jika ada yang mengatakan: “Tuhan telah menunjuk seserorang dan berbicara pada orang itu, kemudian memberitahukan padanya apa yang harus kita lakukan untuk-Nya.” Bagian inilah yang sulit, karena secara ilmiah, manusia tidak suka mengikuti manusia lainnya. Lebih mudah percaya kepada Allah ketimbang percaya kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam ataupun kepada nabi-nabi lainnya, sama saja masalahnya.

Maka ketika Allah mengutus Nabi, Allah akan memberikan sesuatu mukjizat untuk membantu tugas Rasulnya, sehingga kaumnya lebih mudah untuk yakin. Contohnya, pada Nabi Shaleh Alaihis Salaam, kaumnya tidak menerima apa yang ia sampaikan, mereka justru menghinanya. Allah berikan kepadanya unta betina, naqatullah (Unta Allah), unta itu muncul dari bebatuan yang terbelah, ia minum dari seluruh danau yang ada. Ini hanya mungkin bila datangnya dari Allah. Ketika kaumnya melihat itu, maka mereka yakin bahwa Nabi Shaleh itu memang utusan dari Allah.

Jika kamu berdiri disamping Nabi Musa Alaihis Salaam, ketika laut sedang terbelah, kamu sebelumnya mungkin akan ragu, “Orang ini mau membunuh kita ya?”. Ini ada di kitab perjanjian lama. Beberapa mereka menceritakan hal ini. “Orang ini ingin kita mati, kita punya 2 pilihan, apakah kita bani Israil tenggelam disini atau kita dibantai oleh tentaranya Fir’aun.” Bila saat itu kamu melihat laut terbelah, apa kamu masih ragu kalau ia seorang rasul Allah? Tidak akan, keraguanmu akan hilang bila bertemu kondisi seperti itu. Ia memang Rasul Allah. Karena kamu melihat sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh manusia lainnya, yang hanya mungkin datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Telah kita pahami bahwa semua nabi memiliki tugas yang berat. Pesan yang akan mereka sampaikan kepada umatnya itu memang berat dan untuk menolong para Nabi maka Allah berikan mukjizat. Jika kita lihat nabi terakhir, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, Allah memberikan pesan untuk beliau dan kaumnya, yang sekarang kita sebut Al-Qur’an. Allah juga berikan mukjizat kepadanya, kita sebut apa mukjizatnya? Al-Qur’an juga. Al-Qur’an itu pesan untuk kaumnya sekaligus sebagai mukjizat.

Nabi Shaleh Alaihis Salaam dan nabi Musa Alaihis Salaam memiliki pesan yang harus disampaikan kepada kaumnya, namun secara terpisah mereka pun diberikan Mukjizat. Nabi Isa Alaihis Salaam juga memiliki pesan untuk kaumnya, tapi secara terpisah terdapat juga mukjizat. Dua hal yang berbeda. Tapi untuk Nabi Muhammad Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, apa yang Allah berikan? Satu saja. Al-Qur’an sebagai pesan, sekaligus sebagai mukjizat.

Saya pernah ceritakan hal ini kepada anak kelas 6 SD. Saya mengajar pelajaran Islam, dan saya sampaikan hal ini pada mereka. Kemudian salah satu murid saya berkata:

“Ustadz Nouman, ini gak adil.”

“Apanya yang gak adil?”

“Nabi-nabi yang lain diberi benda yang keren, tongkat yang bisa jadi ular, orang mati bisa hidup lagi, laut yang terbelah, ini kan keren semua? Kok kita cuma dikasih buku doang?”

Perbedaan Mendasar Antara Mukjizat Nabi Muhammad dan Nabi-Nabi Sebelumnya

Ada perbedaan yang mendasar antara apa yang Allah berikan pada nabi-nabi sebelumnya dengan apa yang diberikan kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Perbedaan mendasar itu adalah yang Allah berikan untuk nabi-nabi sebelumnya adalah apa yang dapat dilihat oleh mata. Namun yang Allah berikan pada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagian besar adalah sesuatu yang dapat didengar.

Allah berkata di dalam al-Qur’an, Yasmauna (mereka mendengarkan), fastamiulahu (dengarkan dengan baik), sami’na wa ata’na (kami dengar dan kami taat), inna sami’na Qur’anan ajaban (kami mendengar Qur’an yang unik). Yang terpenting pada al-Qur’an adalah mendengarkan. Allah menggambarkan tugas Rasulullah seperti ini: “yatlu alaihim ayatihi, Dia (nabi Muhammad) membacakan ayat kepada mereka (para sahabat).” Nabi tidak memberikan naskah untuk mereka baca. Al-Qur’an dalam bentuk buku itu belakangan. Apa yang terlebih dahulu dilakukan oleh Nabi? Beliau membuat mereka mendengarkannya. Beliau menyampaikan Al-Qur’an melalui pendengaran. Sedangkan mukjizat nabi-nabi yang lain itu melalui penglihatan. Kelihatan bedanya?

Perbedaan lainnya adalah jika saya cukup beruntung dapat hidup di jamannya Nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad, misalnya saja di zamannya Nabi Isa Alaihis Salaam saya melihat ia memperlihatkan mukjizatnya lalu saya katakan pada anak saya: “Isa itu seorang Nabi karena ia memperlihatkan mukjizatnya, ayah lihat sendiri.” Anak saya percaya kepadaku, kemudian ia ajarkan hal yang sama pada anaknya kelak. Anaknya ajarkan hal yang sama pada anaknya lagi. Tapi si kakek buyut yang melihatnya secara langsung memiliki keyakinan berbeda karena ia melihat dengan matanya sendiri. Tapi sang cucu, apakah ia akan memiliki keyakinan yang sama dengan kakek buyutnya itu? Tentu berbeda kan? Ia percaya karena orang tuanya cerita begitu, tapi bukan sesuatu yang ia lihat langsung. Kita kesampingkan sebentar bagian ini. Kita tadi kan baru bahas bahwa Al-Qur’an itu sebagai pesan sekaligus sebagai mukjizat.

[syahida.com/islamedia]

Mengapa Setiap Muslim Harus Belajar Bahasa Arab (1)

Saat ini banyak orang bilang: “Tidak setiap muslim harus belajar bahasa Arab, itu kan hanya untuk para ulama. Saya kan hanya muslim biasa saja, yang penting saya shalat.”

“Saya tidak perlu belajar bahasa ini, kalau Allah mau saya paham bahasa ini, maka ia pasti jadikan saya orang Arab.”

“Pasti ada hikmah dari Allah, ia jadikan sebagian kita orang Turki, Pakistan, Bangladesh, Eropa atau orang manapun juga.”

“Allah kan tidak menciptakan semua orang itu dari Arab, lalu mengapa saya harus belajar bahasa Arab? Bukan salah saya dong kalau saya tidak paham.” Atau ada juga pendapat lain yang mengatakan,

“Allah kan menurunkan Al-Qur’an bukan hanya untuk orang Arab. Lalu kepada siapa Ia berikan al-Qur’an? Ia berikan Al-Qur’an sebagai petunjuk untuk seluruh umat manusia.”

Kalau kita dengar pendapat-pendapat seperti ini, anda mungkin akan berfikir: “Yah..itu masuk akal, tidak ada masalah baca Al-Qur’an terjemahan bahasa Urdu, terjemahan bahasa Persia, terjemahan bahasa Inggris dan lain-lain. Karena si penterjemah pasti paham apa yang ia lakukan, ia pasti bukan orang yang sembarangan. Kok kamu sepelekan hasil kerja mereka? Dan bagaimana bisa kamu justru berkata ‘Tidak ada yang sebanding dengan Al-Qur’an dalam bahasa Arab, karena itu kamu harus belajar bahasa Arab’.

Kita akan menjawab permasalahan ini, insha Allah.


Ini memang pemikiran yang banyak dimiliki muslim saat ini, banyak muslim berfikir seperti itu. Saya akan coba bahas dari Al-Qur’an terlebih dahulu. Bila kamu tanya 1 pertanyaan ini pada muslimin dari manapun mereka berasal, “Mengapa bahasa Arab itu penting?” Setiap muslimin, baik yang paham islam atau yang tidak terlalu paham Islam, baik yang religius ataupun yang tidak terlalu religius, sebagian besar mereka pasti akan memberi jawaban yang sama : bahasa Arab itu penting karena al-Qur’an. Itu jawaban pertama yang akan diberikan.

[syahida.com/islamedia]

Ajaibnya Istigfar

Syaikh Muhammad bin Muhammad Al-Mukhtar As-Syinqity pernah mengatakan :
Tidaklah hati seorang hamba selalu beristigfar melainkan akan disucikan.
Bila ia lemah, maka akan dikuatkan..
Bila ia sakit, maka akan disembuhkan..
Bila ia diuji, maka akan diangkat ujian itu darinya..
Bila ia kalut, maka akan diberi petunjuk..
Dan bila ia galau, maka akan diberi ketenangan..
Sepeninggal Rasulullah, Istigfar merupakan satu-satunya benteng aman yang tersisa untuk kita (dari adzab Allah).
”Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.”(QS.al-Anfal: 33).
Ibnu katsir -rahimahullah - berkata :
"Barangsiapa yang menghiasi dirinya dengan amalan ini, yaitu memperbanyak istigfar, maka Allah akan mempermudah rezekinya, memudahkan urusannya dan menjaga kekuatan jiwa dan raganya".
Maka apa lagi yang kau tunggu...? Perbanyaklah istigfar...!!
Ibnul Qayyim - rahimahullah - mengatakan,
"Bila engkau ingin berdo'a, sementara waktu yang kau miliki begitu sempit, padahal dadamu dipenuhi oleh begitu banyak keinginan, maka jadikan seluruh isi do'amu istigfar, agar Allah memaafkanmu. Karena bila Dia memaafkanmu, maka semua keperluanmu akan dipenuhi oleh-Nya tanpa engkau memintanya".
Ya Allah.. Sesungguhnya engkau Maha pemaaf, mencintai kemaafan, maka ampunilah kami..
(Ustadz Aan Chandra Thalib)

Apa yg kita Cari didalam Hidup ini...

Kita hidup di gunung merindukan pantai...
Kita hidup di pantai merindukan gunung...
Kalau kemarau kita tanya kapan hujan?
Di musim hujan kita tanya kpn kemarau?
Diam di rumah pengennya pergi...
Setelah pergi pengennya pulang ke rumah...
Waktu tenang cari keramaian...
Waktu ramai cari ketenangan...
Ketika masih bujang mengeluh kepengen nikah, Sudah berkeluarga, mengeluh belum punya anak, setelah punya anak mengeluh biaya hidup dan pendidikan...
Ternyata SESUATUMU tampak indah karena belum kita miliki...
Kapankah kebahagiaan akan didapatkan kalau kita hanya selalu memikirkan apa yang belum ada, tapi mengabaikan apa yang sudah kita miliki...
Jadilah pribadi yang SELALU BERSYUKUR...
dengan rahmat yang sudah kita miliki...
Mungkinkah selembar daun yang kecil dapat menutupi bumi yang luas ini??
Menutupi telapak tangan saja sulit...
Tapi kalo daun kecil ini nempel di mata kita, maka tertutuplah “BUMI" dengan Daun,
Begitu juga bila hati ditutupi pikiran buruk sekecil apapun, maka kita akan melihat keburukan dimana-mana
Bumi inipun akan tampak buruk...
Jangan menutup mata kita, walaupun hanya dengan daun yang kecil...
Jangan menutupi hati kita, dengan sebuah pikiran buruk, walau cuma seujung kuku...
SYUKURI apa yang sudah kita miliki, sebagai modal untuk meMULIAkanNYA...
Karena hidup adalah :
WAKTU yang dipinjamkan,
& Harta adalah Amanah yang dipercayakan...
yang semua itu akan di mintai pertanggung jawaban,
Bersyukurlah atas nafas yang masih kita miliki...
Bersyukurlah atas keluarga yang kita miliki...
Bersyukurlah atas pekerjaan yang kita miliki...
Bersyukur dan selalu bersyukur di dalam segala hal. Bersegeralah berlomba dlm kebaikan di mulai dari sekarang.
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ ﴿٧﴾
"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Q.S.14:7)
Semoga kita bisa bersyukur atas pemberian Allah SWT dengan menjalankan seluruh perintahNya dan meninggalkan seluruh laranganNya. Dan semoga kita semua selamat dalam meraih kebaikanNya di semua hari hidup kita.
Aamien YRA...

Ust Musyaffa Ad Dariny, MA

JANGAN TERGESA-GESA!

ﺍﻟﺘﺄﻧﻲ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﻌﺠﻠﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ
" Ketenangan bertindak dari Allah dan
ketergesaan dari setan."
[Hadits hasan riwayat al-Baihaqi]
Ikhwah fillah...
Ketergesaan adalah tabiat manusia. Allah ta'ala berfirman:
"Manusia diciptakan dengan sifat
tergesa-gesa." [Qs 21: 37].
Setan pun berusahamemaksimalkan tabiat ini dalam keseharian kita.
Meski demikian, Allah mengilhamkan ketenangandan kematangan bertindak dan berucap ke dalam diri hamba-hambaNya.
Ketergesaan tanpaperhitungan yang matang sering manjadi petaka dan penyesalan di kemudian hari.
Tentu kita tidak lupa akan ketergesaan Bapakkita, Nabi Adam, yang mencicipi buah terlarangkarena tergiur janji setan bahwa ia akan menjadikekal. Padahal, justru sebaliknya, setelahdimakan, Beliau yang tadinya kekal di surga,malah dikeluarkan.
Nabi Musa juga memberi kita pelajaran. Ketika Beliau tergesa-gesa mengingkari Nabi Khidhr, justru mereka harus berpisah.
Nabi Muhammadshallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "JikaMusa bersabar, akan lebih banyak pelajaran yang didapat."
[Hr al-Bukhari]
Ikhwah fillah...
Ketergesaan begitu sering menyertai kita. Kita tergesa belajar, hingga akhirnya banyak hal yang tidak kita kuasai betul.
Imam Az-Zuhrimengatakan, "Sungguh ilmu yang kami miliki iniadalah buah menghafal satu-dua hadits atausatu-dua masalah fikih per hari."
Sering kita tergesa dalam doa, sampai langsung mendikte Allah. Lupa mengawali doa denganpujian dan shalawat.
Saat doa tak kunjungterlihat hasilnya, kita mengklaim sepihak bahwa Allah enggan mengabulkan.
Padahal Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Doa kalian akan dikabulkan selama tidak tergesa-gesa." [muttafaqun 'alaihi]
Kita kadang tergesa dalam berdakwah tanpamemperhatikan prioritas-prioritas dakwah hinggadakwah tidak efektif atau bahkan gagal. Jikasudah tidak mendapat penerimaan, kita puntergesa mencap mereka sebagai orang-orang yang menolak kebenaran, pengikut hawa nafsu, dansebagainya tanpa mengoreksi metode dakwah kita.
Benarlah kata para ulama: "Barangsiapa tergesa melakukan sesuatu sebelum momennya, tidakakan memperolehnya.
Ikhwah fillah...
Bahkan dosa-dosa pada hakikatnya bersumberdari ketergesaan. Riba dan korupsi adalahbentuk ketergesaan mendapat harta sebanyak mungkin, semudah mungkin.
Zina dan pacaranadalah ketergesaan syahwat sebelum tiba momen yang halal. Menuduh dan memaki adalah wujudketergesaan kita sebelum tabayyun dan memberi uzur. Demikian seterusnya.
Semua adalahketergesaan kita mereguk kepuasan sesaat dengan mengorbankan kebahagiaan abadi kelak.
Ikhwah fillah...
Namun ingat, tidak tergesa-gesa bukan berarti lamban dan tidak peka. Perbedaannya ada pada kesesuaian dengan petunjuk agama, pemikiran yang matang, musyawarah, dan metode yangtepat.
Taufik dan bimbingan Allah juga besarpengaruhnya. Pun juga tipu daya setan.
Lafal hadits di atas seolah mengisyaratkanbahwa seringkali kita menghendaki cepat tanggap, namun setan mengganggu dan menjadikannyaketergesaan.
Atau bahkan kita sebenarnya menunda untuk berpikir matang karena ragu, namun dengan itulah Allah bimbing kita kepadaat-taanni. Wallahu a'lam
✒ Ust Nur Fajri Ramadhan hafidzahulllah
@ Program Just One Day One Hadits