Minggu, 03 Mei 2015

Racun Hati #8


بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

إِنَّ الْحَمْدَ الله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْه فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَمَّا بَعْدُ؛

Ikhwanī fiddin wa akhawatī fillah rohimani wa rohimakumullah, kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wata'ala pada pertemuan yang semoga diberkahi ini, liqo atau halaqoh yang ketigapuluh melanjutkan tentang racun hati yang ketiga.

Racun hati yang ketiga dikatkan oleh syeikh “fudhulul tho’am”, kemudian dijelaskan, kata beliau “Sedikit makan itu memberikan pengaruh: melembutkan hati,  menguatkan pemahaman dan leburnya jiwa dari ketamakan, ketenaran, syahwat dan lemahnya hawa dan marah.” 

Bisa menahan diri dari hawa dan marah karena dengan sedikit makan berarti melemahkan segala unsur-unsur yang menjadikan seorang itu terpacu untuk memenuhi syahwatnya.

Sebaliknya, banyak makan melahirkankan lawan dari itu semua, apa itu? Berarti mengeraskan hati, melemahkan atau menumpulkan pemahaman, kerasnya jiwa, kuatnya hawa dan mudah marah. Ini semua adalah karena fudhulul tho’am.

Maka fudhulul tho’am, makan minum diperbolehkan, perkara yang mubah dalam dien ini, namun tatkala isrof/berlebihan yang menjadikan justru mendatangkan penyakit ataupun racun pada qalbu. 

Dan ini adalah seburuk buruk bejana atau tempat yang diisi oleh anak keturunan Adam.

Dari Miqdam bin Ma'dikarib, beliau berkata “aku telah mendengar Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda: "Tidak ada bejana yang diisi oleh anak keturunan adam yang lebih buruk daripada perutnya, cukuplah untuk anak adam suapan-suapan yang menguatkan tulang punggungnya. Kalau tidak memungkinkan, maka ini adalah batas tolerir yaitu sepertiga untuk makanan, sepertiga perutnya untuk minuman, sepertiganya untuk udara atau nafasnya.”"

Hadits ini diriwayatkan Imam Tirmidzi dalam kitab az zuhud, dan beliau berkata hadits hasan shahih, juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab al at'imah, diriwayatkan pula oleh Imam Hakim, Imam Hakim menshahihkannya, dan hadits ini juga disepakati keshahihannya oleh Imam Dzahabi, demikian pula oleh syeikh Muhammad Nasiruddin Al Albani rohimahumullah jami’an.

Berlebih di dalam makan itu adalah faktor pendorong kepada berbagai macam keburukan yang sangat banyak:

Menggerakkan anggota badan kepada perbuatan maksiat,
Membuat terasa berat bagi anggota badan ini untuk melakukan ketaatan-ketaatan, dan juga ibadah-ibadah.

Kata Syeikh cukuplah dua hal ini adalah suatu keburukan. Berapa banyak maksiat yang sebabnya adalah kenyang dan karena berlebih dalam makan. Dan berapa banyak ketaatan adalah karena keadaan sebaliknya, yaitu sedikit makan dan tidak terlalu kenyang.

Maka sungguh barangsiapa yang terjaga keburukan perutnya sungguh dia terjaga dari keburukan yang sangat besar. Dan syaitan sangat punya pengaruh yang kuat di dalam menyetir anak adam, menyetir manusia apabila manusia itu memenuhi perutnya dengan makanan.

Oleh karenanya telah datang dalam sebagian riwayat apabila lambung itu terpenuhi dengan makanan, maka akan tidurlah pemikiran (lemah daya berpikirnya), dan akan terasa kelu lidah untuk berbicara hikmah, dan anggota badan akan jongkok tidak berdaya untuk melakukan ibadah.

Sebagian salaf berkata adalah para pemuda dari kalangan bani israil rajin untuk beribadah dan apabila waktu berbuka mereka, maka berdirilah seseorang ditengah-tengah mereka lalu berkata "Jangan makan kebanyakan, maka kalian juga akan minum kebanyakan, demikian akan banyak tidurnya, sehingga kalian akan merugi.” 

Merugi karena lalai, banyak ibadah yang dilakukan ditinggalkan, banyak zikir dia tinggalkan, banyak kesempatan emas untuk menolong orang lain, membantu sesama dia tinggalkan karena ketidak berdayaannya, karena banyak tidur. Inilah petaka, hilang darinya banyak maslahat, banyak kemanfaatan dan yang paling berat dari itu semua adalah mengeruhkan hati, menjadikan daya berpikir hati menjadi semakin tumpul karena tidak mampu untuk mencerna kebaikan dan keburukan.

Wallahuta’ala a'lam bishshowab. 

هذا ما أقول لكم
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين، و الحمد الله ربّ العالمين
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ  


✏ Disalin oleh Tim Transkrip 
🔁 Dapat diunduh di: http://goo.gl/I4ocdW
✅ Dimuraja'ah oleh Ustadz Tauhiddin Ali Rusdi Sahal, Lc.
📚 Berdasarkan kitab Tazkiyatun Nufus (penulis Syaikh Dr. Ahmad Farid)

Racun Hati #10

Bismillahhirrahmanirrahim

Assālamu’alaikum Warahmatullāhi wabarakātuh

Alhamdulillāhilladzī arsala rosulahu bil huda wadīnil haq, liyudzhirohu ‘aladdīni kullihi wakafa billāhi syahida, asyhadu allā ilāha illallāhu wahdahu lā syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan Abduhu warosuluh la nabiya wa rasulla ba’dah. Amma ba’ad

Ikhwah fiddin wa akhwat fillah rohimani wa rohimakumullah jami’an. Pada halaqoh yang ketigapuluh dua ini, masuk pada racun hati yang keempat yaitu fudhulul mukholathoh (berlebihan didalam pergaulan).

Dijelaskan oleh syeikh Dr. Ahmad Farid hafidzohullahu ta’ala, banyak bergaul adalah penyakit yang mematikan dan kronis yang melahirkan segala keburukan, berapa banyak pergaulan dan persahabatan yang merampas kenikmatan dan berapa banyak pergaulan yang menanam permusuhan dan berapa banyak pergaulan yang menanamkan benih-benih rasa dendam dan sakit hati pada hati. Gunung pun yang kokoh runtuh meskipun pada hati tidak menyebabkan runtuh. Berlebihan di dalam pergaulan adalah kerugian dunia dan akhirat, dan hanya sepatutnya bagi seorang hamba untuk mengambil bagian dari pergaulan ini sesuai kadar kebutuhan.

Dan dia harus membagi manusia menjadi empat golongan, maka kapanpun mencampur adukkan salah satu bagian dengan bagian lainnya, salah satu golongan dengan golongan lainnya tanpa membedakannya, maka keburukan telah masuk kepadanya.

Golongan yang pertama (bagian yang pertama): orang yang bergaul dengannya bagaikan makan makanan yang bergizi, tidak cukup sehari dan semalam saja. Apabila dia telah mengambil kebutuhannya maka dia meninggalkan bergaul dengan orang ini. Namun kemudian apabila ia membutuhkannya kembali maka dia akan bergaul dengannya kembali, demikian seterusnya. Jadi bergaul dengannya seperti makanan bergizi, tidak pernah cukup, tidak pernah berhenti, setiap hari pasti orang membutuhkan makan makanan yang bergizi.- setiap hari -. 

Siapakah mereka? Mereka adalah ulama yeng mengenal Allāh, mengenal perintahNya, yang mengetahui tipu daya musuh-musuh Allāh, yang mengetahui penyakit hati dan obatnya, dan mereka menasehati kepada Allāh, maksudnya mengajak manusia untuk mengenal Allāh, mengagungkan, dan hanya beribadah kepadaNya, dan juga menasihati untuk kitab Allāh, maksudnya untuk mengetahui apa itu kitab Allāh yang Allāh turunkan, membenarkannya dan mengamalkan isi kandungannya, dan juga mereka para penasihat kepada Rasulullāh nabi Shalallāhu alaihi wa salam maksudnya adalah mengajak ummat untuk mengimani kerasulan Nabi Shalallāhu alaihi wa salam membenarkannya, mengamalkannya dan mendakwahkannya ajaran beliau Shalallāhu alaihi wa salam dan nasihat, dan mereka adalah ulama yang memberikan nasihat untuk makhluk  dengan mendakwahi mereka, mengajak mereka, bersikap ramah, bersikap rahmat kepada mereka dan untuk mengajaknya agar beribadah kepada Allāh Subhanahu wata'ala. Maka permisalan pergaulan dengan mereka ini adalah keuntungan di atas segala keuntungan.

Ikhwah fiddin wa akhwat fillah rohimani wa rohimakumullāh, Maka perbanyaklah bergaulan dengan golongan pertama ini, dengan mendatangi majelis ilmu mereka, duduk bersama mereka, belajar, menimba ilmu bersama mereka, bermusyarawah, menanyakan apa yg tidak diketahuinya. Karena sesungguhnya kebutuhan hati akan ilmu, pemahaman akan dien ini dari mereka sangat dibutuhkan karena mereka ahlinya. 

"Dan bertanyalah kepada ahli dzikir jikalau kalian tidak mengetahuinya". Merekalah yang tahu bagaimana mengobati hati, bagaimana menyembuhkan hati, karena mereka adalah At-Tiba ul Qulub (para dokter-dokter hati). 

Wallahuta’ala a'lam bishshowāb. 
Hadza maa aqulu lakum washallallahuma ‘ala nabiyina muhammadin wa’alihi washohbihi ajmain, walhamdulillāhirrabbil’alamin. 

Assalāmu’alaikum warahmatullāhiwabarakatuh.

✏ Disalin oleh Ummu Arqom
✅ Dimuraja'ah oleh Ustadz Tauhiddin Ali Rusdi Sahal, Lc
📖 Berdasarkan kitab Tazkiyatun Nufus (penulis Syaikh DR Ahmad Farid)

Doa adalah Ibadah yang Utama


لحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد.

قال عليه الصلاة والسلام : أفضل العبادة الدعاء.

Ibadah yang paling utama adalah Doa (hadits shahih riwayat Al-Hakim) 


Doa termasuk ibadah. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِين (غافر : 60)

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda :

الدعاء هو العبادة. (رواه أبو داود والترمذي)

Berdoa merupakan ibadah yang agung. Seseorang yang berdoa kepada Allah, maknanya dia menyadari bahwa hanya Allah lah yang patut dijadikan sandaran, kepada-Nya dia meminta & memohon pertolongan serta ampunan.

Dengan demikian, akan tampak sikap tunduk, patuh, dan merendahkan diri di hadapan Allah tatkala dia berdoa.

Berdoa merupakan perbuatan yang Allah cintai & ridhai karena Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa (sebagaimana yang tercantum dalam Q.s Ghafir : 60)

Berdoa dikatakan sebagai ibadah yang paling utama, tidak lain karena perbuatan syirik yang paling banyak & sering terjadi adalah syirik dalam doa. Yaitu menjadikan makhluk sebagai sekutu bagi Allah dalam mewujudkan suatu doa. 

Seperti seseorang yang memohon kelapangan rezeki kepada Allah dan wali fulan.

Darisini jelas bahwa berdoa merupakan ibadah yang paling agung yang hanya ditujukan kepada Allah semata.

Seseorang yang berdoa, memohon sesuatu kepada Allah (bukan dalam urusan dosa atau memutuskan silaturahim), niscaya Allah akan mengabulkannya. Bisa jadi dikabulkan di dunia, atau disimpan di akhirat, atau akan dipalingkan dari hal yang buruk. (Lihat Shahih Adabul Mufrad no.547)

Oleh karenanya, marilah kita bersyukur kepada Allah atas hidayah-Nya kepada kita berupa kemauan & kemampuan untuk berdoa. Dan kita berdoa kepada-Nya agar memasukkan kita kedalam surga-Nya dan dijauhkan dari panas api neraka-Nya. Amin.

Wallahu A'lam.
Wallahul Muwaffiq.

✒Ust Ridwan Arifin Lc 

Gadis Muslimah London, Selamat dari Pembunuhan Berkat Al Qur’an

Kisah nyata ini dialami oleh seorang gadis Muslimah asal Arab yang tinggal di London. Suatu hari ia memenuhi undangan temannya hingga tengah malam. Meski rumahnya jauh, ia harus pulang malam itu juga.

“Naik bus saja ya. Meski agak lama tapi relatif lebih aman daripada kereta (subway). Di sini sering terjadi tindak kejahatan dan pembunuhan di malam hari, apalagi di stasiun bawah tanah yang biasanya sepi,” temannya menasehati ketika ia berpamitan pulang.

Gadis muslimah ini hanya berpikir bagaimana caranya agar ia cepat sampai di rumah. Karenanya ia memutuskan naik kereta api. Dan ternyata benar. Stasiun sepi. Di ruang tunggu, ia melihat seorang laki-laki yang mencurigakan. Hanya mereka berdua yang ada di sana. Sempat takut, tapi ia kemudian cepat menenangkan diri. Ia berlindung kepada Allah dan membaca surat-surat Al Qur’an yang dihafalnya. Ia pun berhasil melewati laki-laki tersebut dengan aman, lalu naik kereta dan tibalah ia di rumahnya.

Keesokan harinya, gadis Muslimah ini dikejutkan dengan berita pembunuhan yang ia baca di surat kabar. Pembunuhan itu terjadi di stasiun yang sama, persis lima menit setelah kepergiannya meninggalkan stasiun itu. Di berita itu juga disebutkan, polisi berhasil menangkap pembunuhnya.

Penasaran dengan peristiwa itu, ia datang ke kantor polisi untuk melihat siapa pembunuhnya. Ternyata pelaku adalah laki-laki yang telah dilihatnya semalam. Setelah meyakinkan polisi, ia
diberikan kesempatan bertanya kepada laki-laki tersebut.

“Apakah engkau mengingatku?” tanya gadis Muslimah itu.

“Apakah aku mengenalmu?” jawab laki-laki itu sambil berusaha mengingat gadis di depannya.

“Aku bertemu denganmu di stasiun sebelum kejadian tersebut”

“Ya, aku ingat sekarang”

“Mengapa engkau membiarkan aku, tidak membunuhku saat itu?”

“Jangan bercanda. Bagaimana aku akan membunuhmu sementara ada dua pengawal berbadan besar yang mengikutimu?”

Allahu akbar! Rupanya Allah menyelamatkan gadis muslimah itu dengan mengirimkan dua penjaga untuknya. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi semalam.

Saudariku, kapan pun engkau merasa terancam bahaya, berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pelindung dan tidak ada pelindung kecuali Dia.

Kapan pun engkau merasa takut, bergantunglah hanya kepadaNya. Ingatlah Dia, niscaya Dia mengingatmu. Berdoalah kepadaNya dengan doa yang sungguh-sungguh, niscaya Dia mengabulkan doamu.

Seperti kisah nyata yang ditulis Syaikh Ahmad Abduh Iwadh dalam buku La Tai’asu min Ruuhillah (Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah) di atas. 

Ketika seorang hamba benar-benar berdoa, berlindung dan bergantung kepadaNya, maka Dia akan melindunginya dengan berbagai cara yang kadang-kadang hambaNya sendiri tidak tahu bahwa Allah melindunginya dengan caraNya.

Dan janganlah kosongkan dirimu dari Al Qur’an. Hafalkanlah firman-firmanNya, sesuai kemampuan dan kesanggupanmu.

Sesungguhnya dengan menghafal Al Qur’an, engkau bisa membacanya kapan pun. Dan dengan membacanya, engkau mengingatNya. Ketika engkau menghayati maknanya, sesungguhnya engkau berusaha lebih dekat denganNya. Dan Dialah yang menjagamu dan menjaga seluruh penghafal Qur’an.

Kenapa Seorang Mayit Memilih "Bersedekah" jika Bisa Hidup Kembali ke Dunia?

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Sebagaimana firman Allah:

رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ

"Wahai Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda [kematian]ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah..." {QS. Al Munafiqun: 10}

Kenapa dia tdk mengatakan:
"Maka aku dapat melakukan sholat atau puasa" dll?

Berkata para ulama,
Tidaklah seorg mayit menyebutkan "sedekah" kecuali karena dia melihat besarnya pahala dan keutamaannya setelah dia meninggal...

Maka, perbanyaklah bersedekah, karena seorang mukmin akan berada dibawah naungan sedekahnnya...

Dan, bersedekah-lah atas nama org2 yg sudah meninggal diantara kalian, karena sesungguhnya mrk sangat berharap kembali ke dunia utk bisa bersedekah dan beramal shalih, maka wujudkanlah harapan mrk...

Dan, biasakan, ajarkan, didik anak-anak kalian untuk bersedekah...


Diambil Dari Ceramahnya :
Syeikh Maher al-Mueaqly hafidzahullah 
[Imam Masjidil Haram, Mekah al-Mukarramah]

Jumat, 01 Mei 2015

Doa dan Dzikir yang Paling Utama

Rasulullah shallahu'alaihi wa sallam bersabda "Dzikir yang paling utama adalah lafadz لا إله إلا الله dan doa yang paling utama adalah lafadz الحمد لله."

Penjelasan Hadits

Hadits ini menjelaskan tentang keutamaan kalimat لا إله إلا الله dan kalimat الحمد لله.

Kalimat لا إله إلا الله adalah dzikir yang paling utama daripada ucapan dzikir selainnya. Hal itu dikarenakan kalimat tersebut adalah kalimat tauhid yang menjadi pembatas antara keimanan dan kekufuran. 

Kalimat tersebut sangat gambang menyebutkan penetapan uluhiyah hanya untuk Allah, serta menafikan uluhiyah dari segala apapun selain-Nya. Oleh karena itu, barangsiapa yang mengucapkannya dengan lisan, hatinya akan ikut merasakan getaran pentauhidan dan pengagungan kepada Allah ta'ala.

Adapun ucapan الحمد لله, maka itu adalah doa yang paling utama. Karena, hakikat doa adalah mengingat Allah dan meminta kepada-Nya. Dan, di dalam ucapan الحمد لله terdapat dua hal tersebut.

Sehingga, seorang yang mengucapkannya maka berarti ia bersyukur dan memuji Allah atas nikmat-Nya, serta meminta untuk diberikan tambahan atas nikmat tersebut. 

Karena Allah berfirman dalam menjanjikan orang yang bersyukur

لئن شكرتم لأزيدنكم

Artinya : "Jikalau kalian bersyukur, niscaya aku tambahkan nikmatku kepada kalian."

Wallahu ta'ala a'lam

✒ Ust Riki


@Program Just One Day One Hadith 💜

Nantinya Setelah Mati

Barangsiapa yang menjadi pelopor (mengajak) satu sunnah yang baik dalam Islam, kemudian diikuti oleh orang-orang sesudahnya, maka ia akan mendapatkan pahala sebagaimana orang yang mengikutinya, tanpa sedikitpun mengurangi pahala mereka. (HR. Muslim)

Ada orang yang telah dikubur mati, namun ternyata ia masih beramal di muka bumi. Dan ada pula orang yang jasadnya masih berada di muka Bumi, tetapi keberadaannya layaknya orang yang telah mati. Orang yang enggan menyambut hidayah, menutup mata dari seruan kebaikan menuju Rabbnya, hakikatnya seperti orang mati meskipun jasadnya masih mampu berkeliaran di Bumi. Sedikitpun ia tidak mampu mengambil manfaat untuk dirinya sendiri, apalagi bagi orang lain. Adapun orang yang menerima hidayah setelah sebelumnya tersesat dan tidak tahu apa-apa, ibarat orang yang kembali hidup dari kematiannya.

Kebodohan (terhadap ilmu syar'i) adalah kematian bagi ahlinya, sebelum ia mati meninggalkan dunia. Jasadnya adalah kuburan bagi ruhnya, sebelum tanah menjadi kuburannya. (Abdullah bin Mubarak dalam kitab Ighatsul Lahfan karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyah)

"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya terang, dimana dengan cahaya itu ia dapat berjalan di tengah-tengah manusia, serupa dengan orang yang dalam keadaan gelap gulita, yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya?" (QS. al-An'am: 122)

Begitulah perumpamaan dari Allah terhadap orang yang menerima ilmu dan hidayah maupun orang yang menampiknya. Orang yang menyambut ilmu syar'i dan mengamalkannya bukan saja memiliki keutamaan hidup di dunia, bahkan ia bisa menjadi penyeru manusia di jalan kebaikan. Nantinya, meski jasadnya telah berkalang tanah, ilmunya akan terus tersebar di penjuru permukaan Bumi. Ilmu yang ditinggalkannya masih mampu mengajak manusia ke jalan Allah, meski penyampainya telah tiada.

Manusia yang semasa hidup hatinya diterangi oleh cahaya ilmu dan hidayah Allah, dimana ia berjalan di muka Bumi dengan aturan Rabbnya, kemudian ia menginspirasi orang lain untuk berbuat kebaikan seperti dirinya, maka ialah pelopor kebaikan bagi orang-orang yang mengikutinya, baik yang tinggal satu masa dengannya, maupun generasi setelahnya.

Tengoklah kisah para salafush shalih yang telah meninggalkan bekas berupa "buku pintar" dan karya-karya tulisannya yang lain. Begitulah cara mereka menjadi penyeru kebaikan, bahkan hingga setelah kematiannya. Nasehat dan petuah-petuah ilahiyah mereka termaktub abadi dan menjadi cahaya bagi para pembacanya.

Karya para ulama' ibarat anak panah yang akan hidup hingga hari kiamat. (Ibnul Jauzi)

Karya-karya itu menjadi sumber penghasilan (berupa pahala yang tidak putus) bagi para penulisnya yang ikhlas. Dimana nilai penghasilan itu tergantung sejauh mana peredaran ilmunya dan hingga kapan ilmu itu dimanfaatkan orang lain. Ilmu yang dimanfaatkan orang lain akan menjadi pahala yang terus mengalir, meskipun sang pemilik telah tiada.

Namun, bagi orang-orang yang tidak memiliki kapabilitas ilmu untuk berkarya, masih ada pilihan lain untuk dijadikan jejak kebaikan yang ia tinggalkan setelah matinya. Jejak itu dapat ditinggalkan salah satunya dengan cara membangun atau berpartisipasi dalam pendirian lembaga maupun markas dakwah. Selagi proyek-proyek dakwah yang dibangun itu masih berjalan, maka para pendiri dan orang-orang yang berperan di dalamnya akan mendapat pahala seperti para pengelolanya yang masih hidup. Ia mendapat pahala dakwah sebagaimana yang dilakukan oleh penerusnya yang menjalankan misi dakwah ilallah. Baik pahala sebagai pelopor kebaikan, maupun sebagai orang yang mengajak atau menunjukkan kepada kebaikan.

Jadi, bukankah jalan kebaikan dan ladang pahala itu terbuka lebar sekali? Jika kita mulai lelah, maka serulah diri sendiri, "Sebentar lagi, sebentar lagi. Waktu istirahat kita sebentar lagi, in shaa Allah ..."

Oleh :  Ustadz Abu Umar Abdillah