Selasa, 04 Agustus 2015

IRT

🌸Ibu Rumah Tangga 🌸
By ust. Felix Siauw

1. saya masih ingat beberapa tahun lalu sebelum Muslim | papi sempat menasihati saya perihal "Ibu Rumah Tangga"

2. "lix, selama papimu masih bisa mencukupi keluarga, mamimu tugasnya di rumah" | tegas papi berpendapat soal IRT

3. padahal saat itu isu feminisme sedang santer | wacana wanita karir sedang panas-panasnya | arus genderisme mewabah

4. tapi papi tenang aja lalu menyampaikan | bahwa dia ingin yang terbaik bagi anak-anaknya | dan itu berarti perhatian full dari ibu mereka

5. hidup kala itu tidak mudah, dan akal lebih mudah seandainya mami bekerja | tapi papi sudah mengambil pilihan, dan itulah yang ia jalani

6. karena semua manusia punya pilihan | apa yang didapat dan apa yang dikorbankan | semua selalu tentang pilihan

7. sebelum Muslim pun saya tumbuh dengan memahami | lelaki dan wanita tidaklah sama | mereka punya kelebihan di bidang masing-masing

8. posisi ibu dalam dunia anak itu tidak tergantikan | perhatian seorang ibu pada anaknya takkan terbeli sebanyak apapun harta

9. dan posisi ibu itu tidak bisa diulang kembali | karena umur anak takkan bisa diputar lagi

10. maka ketika memilih calon ibu dari anak-anak kami syaratkan | "maukah engkau menjadi fulltime-mother bagi anak-anak?"

11. "saya nggak mau ketika anak dewasa lalu bermaksiat, kita menyesal 'mengapa dulu tidak habiskan lebih banyak waktu bersamanya?!'"

12. itu pemahaman sebelum Muslim | saat sudah mengenal Islam | kami memahami betul Islam paling memuliakan wanita

13. feminisme menjadikan materi sebagai standar sukses | wajar bila mereka merasa dunia tidak adil | karena materi jadi penanda sukses

14. feminisme menganggap waniat modern harus lebih mirip lelaki | bahwa bila wanita tidak bekerja maka wanita akan direndahkan

15. feminisme sukses mendidik wanita melihat kesuksesan sebagai | punya penghasilan tinggi, gelar seabrek, mobil mewah, buka aurat dll

16. wajar hasilnya di negara-negara asal feminisme | wanita jadi lebih malas berkeluarga apalagi memiliki anak | kerja lebih asyik

17. menurut pandangan feminis | IRT itu perendahan martabat perempuan, tidak modern, perbudakan terhadap wanita

18. wajar di negara-negara yang vokal feminisme | perceraian pun memuncak | karena tidak ada satu pemimpin dalam keluarga

19. US misalnya yang jadi kampiun feminisme | angka perceraian mencapai 50% per 2012 sila rujukhttp://t.co/OUvEkdUY8L

20. "nearly 80% cited financial problems as the leading cause of the marital demise" (Carr, 2003, p.10) |http://t.co/zQFsyYQuqe

21. feminisme mangaburkan fungsi ayah dan ibu dalam rumah tangga | hanya semata-mata demi mendapat lebih banyak materi

22. akhirnya meningkatlah angka single parentshttp://t.co/k9eNybXtq7 | dan jelas broken homehttp://t.co/yUvU499gT9 http://t.co/qAjjFfHBQJ

23. banyak juga studi-studi yang menperingatkan | sangat sulit untuk memadukan ibu dan karir sekaligus | http://t.co/mu5t6N2u3m

24. sebagai tambahan, US yang melahirkan gerakan feminisme saja | sudah banyak bermunculan gerakan anti-feminisme sebagai gantinya

25. di US, sudah banyak wanita sadar bahwa feminisme mengorbankan keluarga | mereka ingin kembali menjalankan peran ibu rumah tangga

26. karena seberapa banyak waktu pun yang didedikasikan untuk mendidik anak | tiada pernah akan ada waktu yang cukup untuknya

27. "saya ibu sekaligus karyawan, anak saya baik-baik saja" | di-sambi aja sudah baik, apalagi bila fulltime-mother? tentu sangat baik 

28. lalu pertanyaan prinsipil | "apakah Islam melarang wanita bekerja?" | "apakah wanita tidak boleh berpendidikan tinggi?"

29. dalam Islam hukum wanita bekerja itu mubah (boleh) | sedangkan menjadi "ibu dan pengelola rumah tangga" itu kewajiban

30. jadi sah-sah saja wanita memilih bekerja | namun beres juga kewajibannya | tentu bila dia lebih memilih yang wajib, itu yang utama

31. hidup memang perkara pilihan | dan Islam memerintahkan untuk memaksimalkan waktu ibu untuk anak-anaknya | urusan uang biar ayahnya

32. bagaimana dengan wanita yang ditinggal suami apapun alasannya | maka bekerja menafkahi anak tentu amal pahala besar baginya 

33. maka karir terbaik wanita | adalah menjadi ibu sepenuhnya

34. tentang pendidikan? | tidak bosan-bosan saya sampaikan | bahwa seorang ibu HARUS terdidik sempurna, tinggi dan luasnya

35. bahkan wanita Muslimah WAJIB lebih terdidik daripada lelaki | karena ialah madrasatul ula (pendidikan pertama dan utama) anak-anaknya

36. maka jangan tanya "untuk apa pendidikan tinggi bila hanya jadi IRT?" | jadi IRT justru perlu pendidikan tinggi

37. karena di tangan kaum ibu generasi Muslim berada | bukan di tangan ayah generasi Muslim dibentuk

38. banyak wanita yang sebetulnya bisa menggapai dunia lebih dari lelaki | tapi mereka mengorbankan segalanya demi anaknya | MULIA

39. dari ibunda MULIA semisal itulah | menjadilah Imam Syafi'i, Imam Malik bin Anas, Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad

40. rata-rata ulama besar menghabiskan masa kecil dalam yatim | ibu merekalah yang mendidik dan mendaras Al-Qur'an setiap waktu

41. sembah sujud kami pada Allah yang selalu menjaga dunia dengan para ibunda MULIA | yang mau mengorbankan semua buat kami anak-anaknya

42. hormat khidmat kami padamu wahai ibu | yang gadaikan semua waktu tanpa sesal dan keluh | membina kami jadi yang terbaik dalam agama

43. pada para bunda MULIA doa kami | "Wahai Tuhanku, kasihilah keduanya, sebagaimana keduanya TELAH MENDIDIK AKU WAKTU KECIL" (QS 17:24)

44. kembali lagi semua masalah pilihan | part-time mother or full-time mother? | you decide 😊

Jumat, 19 Juni 2015

Tata cara berbuka puasa

1. Siapkan air putih atau kurma. Minimal kurma 3biji atau lebih tapi ganjil jumlahnya.

2. Tunggu suara adzan magrib dan pastikan itu benar ada adzan maghrib.

3. Jika telah mendengar adzan maka bacalah "bismillah" dan makan 3 kurma tadi baru anda minum air yang anda sukai. Tapi jika tidak ada kurma maka hendaknya minum air putih dulu.

4. Setelah makan kurma dan minum air putih maka ucapkan doa berikut:
ﺫﻫﺐ ﺍﻟﻈﻤﺄ ﻭﺍﺑﺘﻠﺖ ﺍﻟﻌﺮﻭﻕ ﻭﺛﺒﺖ ﺍﻷﺟﺮ ﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ
" Dzahabaz zhamaa-u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaa Allah"
"Rasa haus telah hilang, kerongkongan telah basah, semoga pahala didapatkan. Insya Allah.” Abu Daud (2357), Ad Daruquthni
(2/401)
Setelah itu jika anda ingin doa dg doa doa yang lain maka silahkan dan perbanyaklah. Dan selamat menikmati hidangan buka puasa.

5. Jangan lupa bahwa anda ada kewajiban sholat maghrib. Jadi jangan sampai terlambat untuk kaum pria untuk berjama'ah dimasjid.
Semoga Allah ta'ala senantiasa memberi kekuatan kpd anda untuk menjalan puasa dan amalan ibadah lainnya dibulan Ramadhan.
ﺑَﺎﺭَﻙَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓِﻴْﻚ
 Ust Abu riyadl Lc ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ
-------

Jus kurma untuk ibu hamil/menyusui dan penderita maaq

Assalamu'alaikum wr wb..

kabar gembira buat kita semua 😊 terutama buat ibu hamil/menyusui. penderita maag jg oke! 😉

• • • • •
Jus Kurma Susu by. Ummu Muhammad

Sangat bagus untuk meningkatkan energi dan memperlancar ASI ketika puasa. .

Semenjak minum ini, tdk ada merasa lemas yg berlebihan, ASI lancar padahal Malikah sangat kuat minumnya hingga waktu berbuka.. Mertua yang dulunya hampir tidak pernah puasa karena asam lambung akut, bisa puasa FULL sebab minum jus kurma susu ini biidznillah... Sampai2 pun zaujy ketagihan untuk dibuatin juga karena khasiatnya yang luar biasa. Energy booster! Pembuatan nya sprt membuat nabeez but with a little twist.

Bahan:
- 7 butir kurma, buang bijinya (untuk 1 porsi)
- air minum sckpnya
- susu uht/pasteurisasi secukupnya

Caranya:
- rendam kurma yg sdh dibuang bijinya di dalam air minum hingga menutupi permukaan kurma yg paling atas selama 1 malam (dr isya sampe waktu sahur) - saya rendamnya di dalam kulkas biar dingin
- ketika waktu sahur, tuang kurma yg sudah di rendam beserta air rendamannya. Tambahkan susu uht secukupnya.
- blender semuanya hingga halus.
- minum setelah makan sahur

Pernah baca bahwa kurma bila di campur dengan susu menghasilkan khasiat yg luar biasa bagi tubuh and so that is why I came up with this recipe. Alhamdulillaah...

Rabu, 03 Juni 2015

Ayah Main Yuk

👨 AYAHMAIN 👨
Oleh Idzma Mahayattika

"Mandi sama bunda = Mandi. Mandi sama ayah = Main Air"

"Makan sama bunda = Makan. Makan sama ayah = Main sembur – semburan"

"Misteri dunia: Kenapa para ayah kalau memakaikan celana anak suka terbalik ?"

"Kalau kita pakein celananya terbalik, bayi kita ga tau kok. 
Yang dia tahu, ayahnya ada untuk dia"

"Jangan – jangan, para ayah males main sama anak,
karena sering dicerewetin Bunda ??"

👪 Kenapa ayah harus terlibat?

Berbagai penelitian menyebutkan, anak yang ayahnya terlibat dalam pengasuhan menjadi
➡Punya harga diri yang tinggi
➡Lebih sehat fisik dan mental
➡Lebih sociable - mudah berinteraksi, berteman dan menyesuaikan diri
➡Cenderung tumbuh menjadi orang dewasa yang pengasih
➡Mendapat nilai yang lebih bagus di sekolah
➡Anak lebih mendapatkan sense of independence
➡Lebih percaya diri dan tidak cemas di tempat baru
➡Lebih mudah beradaptasi terhadap perubahan rutinitas
➡Lebih bisa beradaptasi dalam menghadapi kekecewaan
➡Anak tumbuh menjadi pribadi dewasa yang suka menghibur orang lain

👪Bagaimana ayah terlibat dalam pengasuhan?

Michael E Lamb, seorang pakar keayahan menyebutkan, bahwa ayah bisa terlibat dengan 3 cara

1⃣Engagement,  Interaksi langsung ayah dengan anak
2⃣Availability, Kehadiran
3⃣Responsibility, Bertanggung jawab

Nah ! ketiga cara itu bisa dilakukan dengan #AyahMain. Bermain bisa diartikan dengan aktivitas yang menyenangkan. Jadi apapun aktivitas yang menyenangkan dengan anak, bisa dimasukkan dalam kategori bermain. 
Ayo kita ngobrol tentang #ayahMain

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
 
Sesi Tanya Jawab

1⃣Suami saya akhir-akhir ini sangat sibuk dengan pekerjaan, dulu sabtu minggu masih sempat jalan dan bermain dengan anak-anak. Tapi sekarang sudah jarang, anak-anak kadang suka kangen bermain dengan abinya. Bagaimana supaya tetap terjaga kedekatan abinya dengan anak anak dan supaya anak anak tidak merasakan kurang kasih sayang dari abi nya.Terima kasih sebelumnya..
Elia_Tangerang_IPC2

Jawaban :

Prinsipnya adalah semua ayah memiliki polanya masing-masing. Dari 3 hal tadi, engagement, responsibility dan availibility dioptimalkan. Ayah bisa membuat tabel seperti poin dibawah ini.

🍃 Interaksi langsung ayah dengan anak (engagement) 
Main bersama sepulang kantor, membaca cerita sebelum tidur, dll
🍃Kehadiran (availability)
Menelpon ketika di luar kota, menyahut ketika dipanggil, dll
🍃Bertanggung jawab (responsibility)
Menyiapkan nafkah, rumah yang layak, rencana pendidikan, dll

Dari poin itu, coba ayah buat daftar apa yang bisa ayah lakukan untuk memenuhi itu semua. Ayah juga harus berani mengambil waktu untuk anak, jadi ayah perlu membuat jadwal dengan anak, tidak hanya sibuk dengan kerjaan ✅

2⃣ Bagaimana cara menjadi lebih sabar "beraktivitas" dengan anak dan tanpa menjadikan mereka menjadi "tidak menghormati saya sebagai ayahnya"?
Risma_Blitar_IPC2

Jawaban :

Bagaimana lebih sabar? Ayah harus tahu manfaat bermain dengan anak, sehingga ayah tahu, hal-hal sederhana dan menyenangkan bersama anak yang ia lakukan sangat berarti bagi si anak. Ayah juga perlu meniatkan bahwa bermain juga sarana seorang ayah untuk melepas stress. Bermain justru membuat seorang anak menghormati ayahnya. Kenapa? karena dengan #ayahMain, anak merasa ayah ada untuk dia. Sebagai informasi, rough and tough play (bermain "kasar" khas ayah) seperti kuda-kudaan, "banting-bantingan", guling-gulingan dll membuat anak lebih stabil secara emosi. Kita bisa lihat contoh nyata bagaimana Rasul bermain dengan anak dan cucunya. Apakah hasan-husein yang suka main kuda-kudaan di punggung Rasulullah yang sedang sholat, tidak menghormati Rasulullah? Tentu tidak. ✅

3⃣Ayah main sama anak... Apakah bentuk permainan dibedakan berdasarkan jenis kelamin ?
Noni_Tangerang

Jawaban :

Pada dasarnya tidak. Bisa main apapun. Tapi biasanya anak laki dan perempuan akan bermain dengan gayanya sendiri-sendiri. Misalnya aku main mobil-mobilan dengan 2 anakku, 1 laki-laki dan 1 perempuan. Yang laki-laki cerita tentang robot dan yang perempuan cerita tentang menjemput anak, ke pasar dll. Padahal mereka main dengan mobil-mobilan yang sama

4⃣Anak hiperaktif itu penyebabnya apa? Bagaimana ciri-ciri dan cara mengatasinya? Suami kadang kewalahan dengan keaktifan anak kami yg baru 15bln.
Eli_Sumedang_IPC1

Jawaban :

Menurut riset dari the fathering project, anak perempuan yang dekat dengan ayahnya akan
▶merasa cantik,
▶percaya diri,
▶tahu bagaimana diperlakukan oleh pria.

Anak memang aktif dan itulah salah satu peran ayah. Bermain "kasar"  dengan ayah akan membuat energinya habis. Jadi biarkan saja ia menghabiskan energinya dengan bermain. 
Ciri anak hiperaktif ? saya tidak mau bahas itu karena hanya Dokter Spesialis anak dan Psikolog lah yang berhak untuk menganalisa apakah seorang anak itu hiperaktif atau tidak. Jadi bersyukurlah kita punya anak yang aktif bergerak. 
Anak 2 tahun, perkembangan motorik kasarnya pesat sekali. dari hanya bisa tidur ketika baru lahir hingga bisa lari dan melompat. Satu-satunya cara menstimulasinya ialah dengan membuat ia bebas bergerak ✅

5⃣Bagaimana mengatasi pola asuh yang bapaknya memiliki pekerjaan proyek sehingga dalam setahun bisa jadi 9 bulan di luar kota dan 3 bulan full di kampung halaman sama keluarga?
Yani Anggrani_Tasikmalaya_IPC 1

Jawaban :

Sama seperti poin yang sebelumnya,  silahkan dengan kondisi ayah mengoptimalkan bagaima ia berinteraksi langsung (engagement), terhubung (availibility) dan bertanggung jawab pada anak (responsibility). Di 3 bulan dia ada di rumah, ia bisa optimalkan interaksi dengan anak. Ia terlibat langsung disana, main, cerita dll. Ketika di luar kota ia bisa tetap terhubung dengan telepon, WA dll. Atau sekarang banyak tersedia video call. Jadi ayah tetap terhubung dengan anak✅

6⃣Apakah seorang anak akan kehilangan kemampuan yang seperti dimateri kak idzma ketika anak tidak memiliki sosok ayah? Misalnya mereka yang di panti asuhan atau mereka yg dirawat oleh single parent ibu?
Yg kedua, apa yang harus dilakukan bunda ketika memang sosok peran ayah tidak bisa ditemukan? Karena memang seorang ibu bisa melakukan 2 peran sekaligus 
Puji-rembang-ipc

Jawaban :

Anak beresiko mengalami kebalikannya. Salah satu penelitian menyebutkan, sebagaian besar anak-anak yang terlibat kriminal di penjara anak merupakan anakfatherless. Nah peran ayah ini bisa digantikan oleh lelaki dewasa lainnya. Misalnya oleh kakek, paman dll. Atau bisa juga orang luar yang dipercaya oleh keluarga, misalnya ustadz, guru dll. Tapi jika dengan orang dewasa lainnya, mohon perhatikan bagaimana interaksinya supaya tetap aman ✅

7⃣Apa yang membuat seorang ayah bisa segitu getolnya bermain bersama anak ? Padahal jika diperhatikan banyak dari ayah-ayah tersebut yang tau urgensi kedekatan anak ayah.. tapi tidak juga mau meluangkan waktunya untuk ayahmain 
Dyah Sania / Surabaya / IPC1

Jawaban :

Jika tidak mau meluangkan waktu, berarti ia tak paham urgensi. Jika paham ia akan meluangkan waktu. Seorang ayah bisa sangat getol karena ia tau urgensi dan ia juga menemukan kesenangan disana. Dan tugas para ibu salah satunya untuk memberikan kebebasan ke para ayah untuk bermain dengan anaknya. Dengan CARAnya sendiri. jangan dicerewetin. jangan dituntut ini itu dulu.

Perbedaan cara ayah dan ibu dalam berinteraksi dengan anak menurut Randell D turner.

🍃Ayah menawarkan dukungan saat anak menghadapi masalah, namun membiarkan anak menghadapi masalahnya sendiri. Sementara Ibu lebih mungkin campur tangan membantu anak
🍃Fokus ayah saat mendisiplinkan anak adalah agar anakmau berfokus pada hal yang menunjang kesuksesannya. Sementara ibu untuk menjaga hubungan emosional anak dengan lingkungannya
🍃Ayah menciptakan aktivitas fisik. Ibu mengikuti pola interaksi fisik
🍃Ayah bermain fisik untuk kemampuan intelektual dan sosial. Ibu memberikan arahan verbal untuk aktivitas care giving
🍃Ayah membimbing lewat contoh. Ibu lewat proses
🍃Ayah mendorong anak melewati tantangan lebih tinggi. Ibu membiarkan anak melewati tantangan dengan kecepatannya sendiri
🍃Ayah menggunakan tubuh saat berinteraksi. Ibu dengan pendekatan konvensional, serta lewat permainan tradisional, lagu, dan tema

Kalau dilihat dari penelitian Turner tadi, memang berbeda gaya ayah dengan ibu. maka dari itu ibu HARUS bisa paham dengan gaya ayah dan biarkan ayah dengan gayanya. Survey kecil-kecilan ke para ayah, mereka menyebutkan salah satu alasan mereka males terlibat itu karena "males dicerewetin'. Kebalik makein celana, dicerewetin. Main berantakan, dicerewetin. Nah itu yang membuat para ayah males. jadi KAPOK ! 😁✅

8⃣Bagaimana teknis menyadarkan urgensi ayah main ke suami orang lain ? Seperti adik ipar kita. Padahal dialog atau artikel-artikel yang ada sudah di forward ke sang suami
Dyah Sania_Surabaya_IPC 1.

Jawaban :

Saya ga kenal ayah itu euy, jadi nggak tau caranya. yang paling tau caranya ya orang yang kenal dia. Kasih rahasia dikit nih...kenapa ada ayahASI, ayahMain dll itu sebenarnya cara kami para ayah untuk mengedukasi para ayah. Pengalaman kami, para ayah itu nggak suka diceramahin. Nggak suka disuruh-suruh. Maka kami buat jadi ajang berbagi. Ayah lebih mudah masuk dari teman-temannya sesama laki-laki. Ayah juga nggak suka dibanding-bandingkan. Jadi jangan bandingkan ayah-ayah dengan orang lain. Pengalaman saya melihat, para ayah itu sebenarnya ingin anaknya terlibat dalam aktivitasnya. Di grup-grup off road yang saya ikuti, ayah-ayah macho ini suka bawa anak-anaknya off road atau ngebengkel. Jadi dorong aja anak di sesuatu yang ayah sukai. Begitu kira-kira ✅

9⃣Ayahnya sering menuruti hampir semua kemauan anak-anak.. terutama masalah nonton film. Kebetulan ayahnya juga suka sama film.. jadi sering diputarkan film-film di laptop.. nah jadi susah utk komitmen waktu nonton dengan anak-anak..
Kenapa bundanya jd selalu no 2 ya? Bahkan saat saya pulang kerja mereka kadang-kadang cuek.. 
Ima_Ternate_IPC3

Jawaban :

ayah SUFI, suka Film. 😁 Prinsipnya, ajak janjian. Di segala hal, buat aturan keluarga. Buat acara bersama, yang tidak hanya nonton film. Misalnya main bareng di luar atau baca buku bersama.

💞〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
🙏 Islamic Parenting Community 🙏 〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰💞

Melatih dan membiasakan anak berpuasa

By Thasya Sugito

Selasa, 12 Mei 2015

Jangan marah bila anak marah

''Goblok Bener Sih, Mama!'' Jangan Panik Bila Anak Anda Marah Begitu

Kata-kata kasar, umpatan jorok, bahkan perilaku kasar kadang dibawa anak sebagai oleh-oleh dari pergaulan- nya di luar. Tak perlu panik bila hal ini menimpa putra-putri Anda. Ada kiatnya, kok, untuk mengatasinya.

Punya anak usia prasekolah, Bapak-Ibu mungkin akan terkaget-kaget. Pasalnya, dari mulut sang buah hati yang sudah lancar berbicara ini, tak jarang terlontar kata-kata yang membikin merah telinga kita. Ambil contoh pengalaman Ny. Baskoro (34) berikut ini.

Suatu kali Dina, putrinya yang berusia 4,5 tahun, tengah mengerjakan PR melipat dan menempel. Seperti biasa, Ny. Baskoro mendampinginya sambil memperhatikan apa yang dikerjakan Dina dan membantunya kala mengalami kesulitan. Tak jarang Ny. Baskoro ikut mengerjakan PR anaknya itu. Nah, pada hari itu, ketika Ny. Baskoro membantu Dina melipat, tiba-tiba si kecil berteriak,

"Goblok bener , sih, Mama ini. Bikinnya gini , lo, Ma!" sambil merampas kertas tersebut dari tangan ibunya. "Saya sempat shock  mendengarnya. Kok, bisa-bisanya dia ngomong begitu? Padahal, selama ini saya dan ayahnya selalu mengajarinya sopan-santun, kalau ngomong juga enggak boleh teriak-teriak. Eh, tiba-tiba, kok, dia omong begitu dan perilakunya juga kasar, main rampas begitu. Dari mana, ya, dia mendapatkan kata-kata kasar seperti itu?" tutur Ny. Baskoro dengan nada bingung.

BELUM TAHU

Sebenarnya, bila kita paham bahwa anak seusia Dina mulai gemar bersosialisasi, maka kita tak akan terkaget-kaget apalagi sampai shock  seperti halnya Ny. Baskoro. Pasalnya, ketika anak mulai gemar bersosialisasi, maka ia pun akan menyerap segala hal dari lingkungannya, termasuk hal-hal buruk semisal omong kasar.

Jadi, sekalipun kita yakin tak pernah mengajarinya berkata-kata maupun berkelakuan buruk, namun bisa saja hal demikian terjadi pada si kecil. Anak usia prasekolah, seperti dikatakan Dra. Rostiana , sedang dalam masa perkembangan senang melakukan imitasi. Selain itu, "taraf berpikirnya masih praoperasional, belum sampai taraf operasional. Jadi, anak masih berpikir konkret sekali," jelasnya.

Anak juga mulai mengembangkan konsep-konsep; konsep tentang teman, tentang baik-buruk, benar-salah, dan sebagainya. "Tapi justru disinilah bahayanya," ujar Pembantu Dekan III Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, Jakarta ini.

Soalnya, dalam perkembangannya yang demikian, apa yang ada di luar dan menarik perhatiannya, bisa langsung terserap olehnya tanpa ia tahu benar apakah kata-kata maupun perilaku itu buruk atau tidak. Dalam bahasa lain, karena anak belum tahu, maka akhirnya banyak hal yang tak diinginkan orang tua dan sebenarnya juga tak diajarkan, ternyata dilakukan anak. Termasuk memaki-maki seperti yang dilakukan Dina ataupun berkata-kata jorok, dan sebagainya.

SUMBER PENGARUH

Jadi, Bu-Pak, betapa besar pengaruh lingkungan terhadap buah hati tercinta yang sedang dalam masa tumbuh-kembang ini. Misalnya, si kecil tengah bermain bersama teman-temannya, lalu ia melihat seorang temannya merebut mainan anak lain dan menang.

"Bagi anak yang melihat, hal ini sangat mengasyikkan, walaupun anak yang direbut mainannya itu menangis. Karena ia berpikir, dengan merebut, ternyata mendapat sesuatu. Akhirnya ditirulah perilaku itu," jelas Rostiana. Bukan berarti yang menjadi sumber pengaruh buruk ini hanya melulu terbatas pada teman mainnya, lo. "Sumbernya bisa datang dari siapapun juga dan dari mana pun si anak berada atau melihat."

Misalnya, saat sedang jalan-jalan bersama Anda, si kecil melihat orang dewasa berantem sambil memaki-maki dengan kata-kata kasar maupun jorok. Ternyata, kejadian itu ditonton banyak orang dan bahkan disoraki.

Baginya, hal ini sangat exciting  karena perbuatan itu mendapat perhatian banyak orang dan mendapat dukungan pula dengan cara disoraki. Nah, karena ia belum bisa menangkap sebagai hal baik atau buruk, maka ditirulah. "Jadi, hanya sekadar imitasi."

Namun, dalam imitasi tersebut, anak hanya akan meniru hal-hal yang exciting  buatnya. Terlebih lagi bila ada faktor reinforcement -nya (penguat). Jadi, kalau ada anak memaki temannya dengan kata-kata, "Goblok, lu !", misalnya, lalu ada yang menyoraki, berarti ada reinforcement-nya. Ia pun tergerak untuk menirunya karena dengan cara itu, ia akan mendapat perhatian dari orang lain berupa sorakan teman-temannya. Dengan demikian, perilaku buruk akan tertanam pada anak bila ada model atau faktor pencetusnya dan ada faktor penguatnya. "Apalagi kalau saat ia mencoba meniru, ia juga diberi penguat oleh orang lain, dielu-elukan sebagai yang paling hebat, misalnya, maka makin kuatlah perilaku itu melekat padanya," tutur Rostiana.

Selain itu, bila anak mengalami sendiri, misalnya, ia yang dikatai "goblok", maka akan lebih membekas dibanding bila ia hanya menyaksikan orang lain yang dikatai seperti itu. Akibatnya pun lebih "parah", bisa menimbulkan agresivitasnya. Saat di rumah, ia bisa melontarkan kata tersebut dengan sangat kasar, semacam pelampiasan dendam.

Perlu diketahui, pengaruh buruk ini biasanya lebih banyak diadopsi oleh anak perempuan. Soalnya, perkembangan verbal anak perempuan lebih cepat dibanding anak lelaki. "Kalau anak lelaki, justru perkembangan motoriknya yang lebih cepat," jelas Rostiana. Namun demikian, bukan berarti anak lelaki tak bisa mendapat pengaruh buruk ini, lo. Jadi, sekalipun Bapak-Ibu hanya memiliki si Buyung, namun tetap perlu waspada.

REAKSI YANG TEPAT

Nah, dengan mengetahui bagaimana proses terjadinya pengaruh buruk tersebut, menurut Rostiana, yang paling penting dalam upaya mengatasinya adalah reaksi dari sekeliling anak. Bukankah tanggapan dari orang-orang di sekelilingnya ikut menentukan, apakah perilaku buruknya akan semakin buruk ataukah berubah baik?

"Bila lingkungan rumah si anak tak paham terhadap proses belajar anak usia ini, maka yang terjadi bisa macam-macam," kata Rostiana. Bisa jadi tanggapan orang rumah malah menguatkan tingkah laku anak. Misalnya, ia mengatai kakaknya "goblok", lantas kakaknya juga balas mengatai "goblok". Berarti, hal ini saling menguatkan, kan?

Maka, perilaku itu pun akan lebih intens  lagi. Itulah mengapa, tanggapan atau reaksi yang tepat dari sekeliling sangat penting. Termasuk pula, tak menanggapi dengan larangan, "Eh, nggak boleh ngomong begitu, tidak sopan!" Jikapun melarang, sebaiknya orang tua juga menjabarkan tentang omongannya itu. Saat anak melontarkan kata "goblok", misalnya, tanyakan, "Kak, goblok itu artinya apa, sih?" "Seringkali, jawaban yang diberikan anak tak sama dengan persepsi kita. Ia tak tahu apakah goblok itu. Ia hanya asal omong saja," tutur Rostiana.

Bisa jadi jawabannya adalah, "Itu, lo, Ma, tadi si Ani nungging-nungging, terus Anto bilang, 'goblok'." Nah, salah, kan, arti goblok yang dimengertinya?

Lagi pula, bila anak tak dijelaskan, ia hanya tahu, omong "goblok" itu tak boleh karena itu sesuatu yang buruk. Sehingga, saat ia menjumpai kata "goblok" dalam konteks yang lain, ia pun akan kaget. Bukankah dalam konsep lain, kata "goblok" belum tentu buruk? Jadi, tandas Rostiana, tugas orang tualah menjelaskan arti sebenarnya dari kata tersebut dan menerapkannya sesuai konteksnya.

Misalnya, "Kata 'goblok' itu artinya bahwa orang itu belum mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu. Misalnya, Ani belum bisa berhitung. Tapi bukan berarti ia goblok karena ia belum mencoba. Tapi kalau ia sudah berkali-kali nyoba  dan tetap saja enggak bisa, itu memang kategorinya goblok." Dengan demikian, anak akan punya pertimbangan kapan kata itu diterapkan. Selain itu, anak pun perlu diberi tahu apa dampaknya bila ia melontarkan kata tersebut. Misalnya, "Temanmu bisa sakit hati. Nanti dia enggak mau lagi main sama kamu. Kamu jadi enggak punya teman. Nggak  enak, kan, kalau nggak punya teman?"

ARAHKAN TERUS

Begitupun kala anak menunjukkan perilaku buruk, orang tua harus memperlihatkan dampak dari perbuatannya itu. "Memberi tahu anak akan lebih efektif jika ia tahu konsekuensi dari tindakannya," kata Rostiana. Selama anak cuma dilarang tak boleh, baginya masih abstrak karena ia tak tahu konsekuensinya. Jadi, misalnya, ia ngejorokin  dan meludahi adiknya, katakan, "Tadi Kakak lihat, kan, bagaimana Adik sewaktu Kakak jorokin dan ludahi?

Nah, bagaimana rasanya kalau Kakak yang dibegitukan?" Jadi, orang tua mengajari anak pada pola pikir yang konsisten bahwa kalau ada aksi pasti ada reaksi. "Dengan menggali reaksi anak, orang tua bisa mengarahkannya bila tak benar." Yang justru jadi masalah bila ia malah bilang, "Biarin saja. Wong , Adik jahat sama aku, kok."

Hal ini berarti, orang tua mesti lebih banyak lagi persuasifnya untuk memperlihatkan bahwa dampak dari perbuatannya itu buruk sekali sehingga tak boleh lagi dilakukan. Namun tentunya, pengarahan yang demikian tak hanya cukup sekali dilakukan. "Yang namanya anak, harus terus-menerus diingatkan sampai kebiasaan itu hilang."

Jikapun kebiasaan itu tak kunjung hilang, jangan putus asa. Kita boleh, kok, menerapkan punishment . "Dulu anak saya punya kebiasaan mencubit. Nah, saat kami sedang bermain, seolah tanpa sengaja, ia saya cubit. Wah, ia kaget sekali dan sangat marah. Lantas saya bilang, 'Rasanya bagaimana, Dik? Sakit, kan?

Itu pula yang dirasakan orang jika kamu cubit. Nggak  enak, kan, dicubit? Begitu juga orang lain.' Dengan cara ini, sekaligus anak ditunjukkan dampaknya, juga tanpa sadar sebenarnya ia di-punish ," tutur Rostiana. Selain itu, memperlihatkan dampak yang besar padanya pun, menurut Rostiana, sudah merupakan punishment  buat anak. Misalnya, ia memaki-maki dan memukul anak lain hingga anak itu menangis.

Nah, perlihatkan hal ini padanya bahwa akibat perbuatannya maka anak itu menangis tak henti-henti. "Coba, deh, kamu bayangin, ia akan menangis terus semalaman. Nanti akibatnya akan haus, tenggorokannya sakit, dan mungkin jadi tak bisa makan."

Tentu saja bila ia bisa berkelakuan baik, bisa menahan diri untuk tak melontarkan kata-kata kotor atau perilaku buruk lainnya dalam jangka waktu tertentu, maka orang tua pun perlu memberikan rewards buatnya. "Rewards -nya tak perlu berupa es krim, misalnya, tapi pujian juga sudah sangat berarti buatnya." Nah, Bu-Pak, sekarang sudah tahu, kan, bagaimana sebaiknya menghadapi si kecil yang suka melontarkan kata-kata ataupun berperilaku buruk?

KERJA SAMA DENGAN GURU

Alangkah baiknya bila Bapak-Ibu juga bekerja sama dengan guru si kecil di "sekolah". Saran Rostiana , sering-seringlah bertandang ke "sekolah" anak, sekadar say hello  sama gurunya. Dengan demikian, kita jadi tahu bagaimana perilaku anak di "sekolah"nya. Juga, kalau ada pengaruh buruk dari temannya, kita bisa bekerja sama dengan guru dalam rangka menghilangkannya. Tak hanya itu, si guru pun bisa membantu untuk menghilangkan kebiasaan buruk tersebut pada sumbernya. Rostiana lantas menuturkan, betapa teman anaknya yang semula jadi trouble maker  di "sekolah" bisa berubah baik berkat bantuan guru.

"Tadinya anak itu senang mengganggu anak-anak lain hingga menangis. Nah, oleh gurunya, si anak diminta jadi ketua kelas. Ia diberi tanggung jawab untuk mengatur teman-temannya dan menjaga mereka; pokoknya, enggak boleh ada yang menangis atau bertengkar. Karena rasa tanggung jawabnya, malah ia yang menjaga teman-temannya, menolong temannya jika kesusahan, bahkan selalu mendahulukan teman-temannya agar main duluan dan dia yang menjaga. Tanggung jawabnya tumbuh dan akhirnya ia tak jadi trouble maker  lagi. Nah, ada hasilnya, kan, jika kerja sama dengan guru?" Jadi, Bu-Pak, jangan sungkan untuk "beramah-tamah" dengan guru si kecil, ya.

BIARKAN SI KECIL TETAP BERGAUL

Jangan mentang-mentang lingkungan bisa memberikan pengaruh buruk, maka Bapak-Ibu lantas melarangnya bergaul. Bahkan, sekalipun kita tahu dari mana atau siapa yang jadi sumbernya. Pasalnya, anak butuh sosialisasi. Selain itu, "sumber buruk ini, kan, enggak cuma dari temannya, tapi juga bisa dari tetangga atau orang di jalanan. Nah, dengan demikian, kita tak bisa melarang anak untuk bermain bersama teman-temannya," tutur Rostiana

(sydh/Nova)

http://m.voa-islam.com/news/muslimah/2010/12/11/12247/goblok-bener-sih-mama-jangan-panik-bila-anak-anda-marah-begitu/

Minggu, 10 Mei 2015

Weaning with Love

👶 Weaning With Love (Menyapih dengan Cinta) 👶

💕Tips sukses cara menyapih dengan cinta (Weaning With Love) sangat dibutuhkan oleh ibu yang akan menyapih buah hatinya. Karena, proses menyapih anak bukanlah hal mudah yang dilakukan Ibu kepada buah hatinya. Perjuangan berat ketika seorang ibu memutuskan untuk tidak memberikan ASI lagi.

💕Perasaan sedih, kehilangan, tidak hanya dirasakan oleh anak tapi juga oleh ibu. Karena itu, menyapih dengan cinta sangat diperlukan dalam proses pemutusan ASI untuk meningkat ke tahap selanjutnya, minum susu dari gelas. Dalam proses menyapih ini, tidak hanya melibatkan anak dan ibu, tetapi dukungan ayah juga sangat penting.

💕Agar proses menyapih berjalan lancar, berikut beberapa tips sukses menyapih yang disarankan beberapa ahli laktasi yaitu :

1. Proses menyapih dilakukan secara bertahap. Misalnya frekuensi menyusui dikurangi dari 4 kali menjadi 3 kali hingga akhirnya berhenti sama sekali.
2. Alihkan perhatian anak atau sibukkan anak dengan hal lain. Di waktu-waktu harusnya anak menyusui, Ibu harus memberikan kesibukan pada si anak misalnya dengan bermain,  membacakan buku, atau memberikannya snack yang sehat.
3. Jangan menyapih di saat anak sedang tidak sehat, sedih, kesal atau marah.
4. Hindari menyapih anak dari menyusu ke benda lain seperti empeng, botol susu, bantal, dan lain sebagainya.
5. Tips sukses menyapih yang utama adalah bina komunikasi yang baik dg anak. Ingat, seberapa kecil usia anak, anak tetap mengerti dan memiliki kemampuan untuk mengerti kata-kata dari orang di lingkungannya.
6. Ibu tidak boleh stress saat melakukan proses menyapih.
7. Jangan menyapih secara berdadak, harus bertahap.

💕Yang perlu dihindari agar tips sukses menyapih bisa berhasil:

1. Jangan mengoleskan obat merah atau menempelkan apapun pada payudara ibu, dengan maksud agar si anak tidak mau menyusu. Karena artinya ibu mengajarkan berbohong pada anak.
2. Jangan menawarkan ASI jika anak menangis atau rewel.
3. Jangan memperkenalkan botol susu, dot, empeng.
4. Jangan memaksa. Lakukan dengan perlahan, karena anak membutuhkan waktu untuk berhenti menyusu.

Demikian tips sukses menyapih dengan cara Weaning With Love. Semoga bermanfaat.

Detil info baca disini: http://aimi-asi.org/menyapih-dengan-kasih/